Wednesday, February 8, 2017

Hope is all you need

Do you ever feel like you are really wanting something? The thing that could and would change your life? Not only yours, even your entire family lives? 

Well this is my current condition. Two days ago I attended job interview in a company. A great company, like very great, to work for. They flied me to Sby and covered all of my accomodations expenses. It feels so heartwarming that they invited me and offered me this amazing opportunities to be one of the candidates to be their new family members. Of course I tried to give all my bests, invested my time, thought, energy, and everything this past two weeks to prepare for this presentation and interview sessions. 

I tried to give my best, eventho at the end I felt like not really maximum. I dont know, I was just incredibly nerveous at the time that I couldnt elaborate what I wanted to say as planned. Believe me, even when you already rehearse so many times, when it comes to the real interview session, boom! It feels like all you have rehearsed is gone. More like impromptu all the time. 

But still, I can only hope and pray for the best result, because once again, I did it not only for me, but also for my family. 

Last night I called my father to tell him all about it. Surprisingly he really encourge me and also hopes that I can get that position. My grandma also called this morning and sent her highest hope to me. She even already has plans if I get the position. 

In this moment, I begin to more realize that everybody has high hope on me. I'm not saying that they depend on me, but it's just.. You know, sometimes you just feel that their future, their lives, are greatly correlate with yours. That everything that I do, or I have, will affect them. That I have this very big role in shaping their future lives, even if indirectly. 

Then I flashback to how I did yesterday. Did I do great? Did I nail the interview? Will I be one of the new members of that company? Being one of the 30s candidates that successfully get the position? Will I change my family lives? Will I make their lives better? Can I fulfill all their hopes? Their needs? 

There are so many thought in my head after that interview. Often I said to myself that I could do better. But then, that moment's gone. The only thing I can do is pray, pray, and pray. And ask my whole family to pray for me. What else can I do? 

From the very first time, i said to myself that everything I do, every attempt, every chance that I take, I do it for my family. For a greater good. For bigger impacts. 

And when I look at the other candidates, I know that they also have so many different motives, hopes, expectations. I only wish that all of the candidates will get the job there. Because all of us deserves it. Aamiin. 

Tuesday, January 17, 2017

Rollercoaster

Hmm. Mau mulai dari mana dulu yaa. 

Gini deh. Kan di saat lagi aktif-aktifnya jadi job-seeker gini, "social media" yg paling sering aku buka sekarang adalah Jobstreet sama LinkedIn. (LinkedIn termasuk ke dalam kategori social media loh menurut beberapa sumber). Nah kalo di LinkedIn tuh selain cari vacancy juga karna ada banyak artikel bagus yg dipost oleh company/media/grup yang aku follow. Salah satunya adalah yg temanya tentang job seeking dan semacamnya. 

Ada lah satu artikel yg membahas tentang "Pain Letter", sebagai pengganti atau versi terbaru dari cover letter yang sudah dianggap kurang efektif di masa sekarang. Bedanya pain letter sama cover letter adalah, kalo pain letter itu lebih to the point dan concise, dengan kita lebih menekankan tentang kira kira "pain" atau masalah apa yg sedang dihadapi oleh perusahaan/unit itu, lalu kita mencoba untuk menawarkan kemampuan kita untuk menangani pain itu berdasarkan skill dan pengalaman yang kita punya. Jadi intinya kalo pain letter itu kita lebih mementingkan kebutuhan dan kepentingan perusahaan yang kita tuju, instead of menerangkan panjang lebar tentang kemampuan dan pengalaman kita aja. 

Idenya sih, dengan kita lebih care terhadap permasalahan perusahaan dan penyelesaiannya apa, hiring manager atau possible next employer kita tuh akan lebih terbuka. Karna untuk menyusun pain letter juga butuh banget research tentang perusahaan itu, supaya tau kita nanti akan menghadapi apa sampai-sampai perusahaan membuka vacancy itu. Jadi kalo pain formulationnya tepat sih itu bakal jitu dan tepat sasaran banget. Dibandingkan dengan cuma menjabarkan keterangan ini itu di cover letter yang ribuan orang juga mungkin sama aja pola dan kalimatnya. 

Menurut aku sih, makes sense ya, asal ya itu, pain formulationnya tepat. Makanya aku juga penasaran buat nyoba bikin dan pake cara itu. Siapa tau dengan cara yy berbeda akan menghasilkan output yg beda juga kan. Nah tapi pain letter ini akan lebih efektif kalo langsung ditujukan ke hiring managernya, alias usernya. Kalo ke tim rekrutmen agak kurang mengena. Berhubung udah niat mau coba pake cara ini kan ya jadinya sekalian aja jangan tanggung tanggung. Jadilah aku search di LinkedIn, karyawan yang ada di unit yg mau aku apply. Setelah scrolling panjaaaang sampe ke bawah akhirnya nemu beberapa. Ada satu yg sama persis, dan kebetulan dia manager di unit itu. Seneng banget kan! Langsung aku add LinkedIn nya. Tapi sayangnya pas aku cek di profilnya gak ada alamat emailnya. Gak mungkin kan apply via kirim message doang? Akhirnya aku berinisiatif buat search nama dia di facebook, siapa tau ada alamat emailnya. 

Pas aku search di facebook, ternyata dia itu friend nya dosen pembimbingku! Surprised! Langsung kan aku kontak dosenku saat itu juga, nanya kenal gak sama orang itu. Ternyata dia dulu mahasiswa nya dosenku pas di MMUI. Akhirnya aku cerita panjang lebar dan minta email dia. Dosenku ngasih setelah nanya dan dijinin buat share email mbak itu ke aku. 

Relieved. Awalnya. Tindakan spontan yang awalnya niatnya cuma iseng nyoba tapi trus agak merasa dipermudah gitu kan, akhirnya beneran diniatin. Abis dapet emailnya langsung mikir buat nyusun pain letternya. Research webnya, annual report nya, sama beberapa laporan keuangannya. Singkat cerita jadilah itu pain letter. Trus update cv, ganti ini itu. 

Biasalah selalu ga pede sama kerjaan sendiri, akhirnya aku konsultasi haha. Thanks je! Dan dari hasil konsultasi itu dikasih saran untuk tetep ada pembukaan/perkenalan dulu sebelum beralih ke pain nya. Iya bener juga sih, takutnya nanti gak sopan dan sok tau kan. Dan karena konsep pain letter juga masih sangat tabu di indonesia, mungkin.  Aku jadi mikir lagi kaaan. Sempet rasanya mau ga jadi aja pake pain letter itu, tetep pake cover letter biasa aja. Yaelah udah segini aja masih pake galau Ay -.- 
Akhirnya setelah menimbang sekian lama aku putuskan buat nulis perkenalan dan pain letter di body email.. Dan attach cover letter plus CV. Ce-men. Yah walopun sempet mikir "I'm already in my lowest condition right now, it won't make any difference if I do anything differently. Like, what could get worse?" - tapi tetep aja, cemen. Main aman. Cupu. 

Jadinya body email itu panjang -.- 
Sempet mikir, ini nanti orangnya males baca duluan gak ya liat email isinya panjang kali lebar kali tinggi. Hah yaudahlahya, namanya juga usaha. Anyway aku sampe googling loh tentang kapan waktu terbaik untuk mengirimkan email berisi resume kepada hiring manager hahaha. Seniat itu, sumpah. Ya kan biar totalitas sekalian. Dan hasil googling ku itu katanya kalo weekday ya pas pagi antara jam 7-8. Oke dan waktu itu hari Senin. Ada artikel yg bilang lebih bagus Selasa daripada Senin karna kalo Senin orang masih males bla bla bla, tapi yaudahlah akhirnya aku putuskan buat kirim pagi itu juga. 

Sampe kantor langsung buka gmail, ngetik ngetik, dan kirim resume ke luar pake internet kantor HAHA. Absolutely barbaric. Abis itu perut mules ngebayangin reaksinya. Eh tapi kan dia juga udah ngasih ijin ya buat email. Toh juga kita ada mutual professor nya kan (istilah apa ini, mutual professor). 

Seharian gak bisa tenang karna ini sebenernya ngarep banget sih bisa keterima. Karena kerjaannya 90% mirip kayak kerjaan waktu di bank dulu. Dan ini kantornya deket banget dari kosaaan yaampun. Trus private bank yang karyawannya gak sebanyak public bank, jadi kemungkinan kesejahteraan karyawannya masih lebih diperhatikan. Jadi ya gitu deh, ngarep tingkat dewa. 

Pas siang emailnya dibales. Dan tau gak isinya apaaa? Ternyata, ehem. Vacancy itu sebenernya buat menggantikan si mbak itu. Which is manager kan. Dan dia udh forwars ke bos nya pagi itu juga. She wishes my resume suits her boss' needs. 
You know what? I don't know how to respond. Hahahah. Vacancy itu untuk managerrr. Dan dia di sana udah 5 tahunan kalo ga salah. Antara masih ngarep (dikit) dan pasrah sih. Secara, manager gitu. Ya ada sih temenku yg dulu keluar dr bank itu ke bank lain langsung jadi manager. Ah semoga ada keajaiban. Yang penting segala hal udah dilakuin kan? But still, funny how it turns out at last. Whatever will be will be deh. 

Saking seringnya aku buka Jobstreet dan LinkedIn di kantor, temen temen kan jadi banyak yang tau kalo aku lg usaha banget cari kerja. Aku sih bodo amat ya, tetep fokus aja. Tapi mereka tuh masih teteep aja ada yang menilai aku tuh kurang bersyukur lah, trus sayang banget buat keluar dr sini lah, itu lah. Beberapa orang yang ngerti aku sih paham ya alasan aku tuh apa sampe akhirnya bener bener seniat ini buat keluar. Ya di samping ada faktor dari perusahaan itu dan lingkungan, ada juga faktor dari internal aku sendiri yang bikin bener bener ga bisa bertahan. Kalo kondisinya tetep aja kayak gini aku ga bisa hidup. 

Aku sih ga memaksa orang lain buat paham akan hal ini ya. Karna mau dijelasin berapa kali sampe berbusa pun, ga akan ngerti. They've never been in my shoes. They will never be. Jadi percuma mau debat juga. Mending disenyumin aja, disyukuri aja. Sukurin! 

Ga ada yg tau kan gimana rasanya uang tinggal 150 ribu dan harus diirit buat sampe 15+ hari? Secara kalkulator aja udah ga masuk hitungan. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya beberapa hari nahan laper ga makan malem, demi save uang buat bertahan hidup sampe gajian? Makan sehari cuma sekali. Dan direm banget jangan sampe lebih dari 20 ribu.
Ga ada yang tau kan rasanya dua hari berturut turut cuma makan pake nasi dan ikan asin? Alhamdulillah kemaren pulang dibawain beras sama ikan asin, jadi bisa buat menyambung hidup. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya laper, pengen makan ini itu, tapi harus direm bener bener buat menghemat pengeluaran? Lupain dulu lah itu pengen gemuk. Impossible. Yang ada ini badan makin tipis tinggal tulang berbungkus kulit. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya sedih banget ga bisa bales sms dari ibu karna pulsa abis dan ga bisa beli? Boro boro mau curhat, bales sms yang isinya nanya lagi ngapain aja ga bisa. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya berhari hari di kosan aja ga kemana mana, tiap diajak main sama temen ga bisa ikut demi menghemat pengeluaran? Yang sampe akhirnya temen juga jadi males ngajakin lagi. And I don't know what they're talking about anymore. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya setelah seharian di kantor stress sendiri, pas pulang juga makin stress sendiri, mau cerita ke orang juga nanti malah jadi nambahin beban orang itu. Akhirnya yaudah diem sendiri. 
Ga ada yang tau kan rasanya pas lagu diem sendiri tiba tiba langsung nangis yang bener bener terisak sampe ga bisa nafas. Dari yang air mata keluar banyak banget sampe nangis tanpa air mata. Dan seketika itu jg yg terlintas di kepala adalah muka muka keluargaku, yg belum juga bisa aku bikin sejahtera hidupnya. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya, sampe kepikiran buat commit suicide? Big time! 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya dicuekin sama ayah sendiri? Entah dia marah sama aku atau sama dirinya sendiri, yg sekarang aku udah ga bisa bantu banyak. Yang waktu aku di rumah terakhir itu ngobrol aja jarang. Yang pas aku mau balik ke jakarta lagi, pas mau pamitan dia malah udah pergi. Bener bener sengaja pergi. Trus aku harus cari sosok ayah dari siapa? 

Ga ada yang tau kan gimana rasanya? 
Dan orang lain emang ga perlu tau. Dan ga perlu menjudge. 
Iya mereka yang kerja cuma buat diri sendiri. Atau bantu orang tua dikit. Yang gak perlu mikir bayar kosan. Gak perlu mikir makan pake apa. Gak perlu mikir kalo pengen beli ini itu, makan ini itu. 

We have different path, different story, different battle to fight for. Dan selama gatau kondisi sebenernya seseorang, ga perlu menjudge! Karna mau dikatain segimana juga gak akan pernah ngefek. Aku mau dibilang gak bersyukur kek, gak tau diuntung kek, bodo amat! You dont know me. Kalo ada yg bilang aku lebay dalam merespon semua kejadian di kantor dan kelakuan bos bosku. Well, it's not only about them kok. More importantly, it's about me. 

Mungkin saat ini penyelesaian yang aku butuhkan ya penghasilan yang lebih besar. Karna buat menekan pengeluaran ini udah maksimal banget. Rasanya kayak udah mau mati tau gak sih, nahan laper terus tiap hari. Makanya balik lagi ke piramida kebutuhan ala Maslow, aku tuh ibarat makhluk primitif banget yang bahkan kebutuhan pokoknya pun belum terpenuhi. Boro boro aku kepikiran buat kebutuhan lain. Malah ngajak liburan make konsesi tiket -.- 

Gitu deh. Udah ga ngerti lagi mau gimana. I am too desperate to think. 





Saturday, December 3, 2016

Learning The Hard Way

You know, selama kurang lebih enam bulan ini rasanya aku selalu penuh dengan penyesalan. Menyesal karena sudah memilih jalan yang well, menurut aku agak salah. Jalan yang awalnya aku kira ini sebagai anugerah, rejeki, tapi ternyata sebuah ujian. Walaupun kalo kata orang setiap ujian itu pasti ada pelajaran yang bisa diambil setelahnya, tapi tetep aja susaah banget rasanya untuk tau apa sebenarnya pelajaran yang sedang dan akan diberikan. Tiap hari yang ada malah stress, sampai pernah kepikiran buat konsultasi ke psikolog. The lowest point in my life so far. Ujian usia 26.

Setelah isinya cuma bisa menggerutu, menyalahkan diri sendiri, dan lain sebagainya, sekarang aku udah sampai pada tahap "terserah". Rasanya udah mati rasa, males untuk berusaha memperbaiki keadaan. Karena memang untuk saat ini masih belum bisa gerak ke mana mana, jadi yasudah terima aja. And i began to see this job as a paycheck. Only paycheck. Aku kerja karena sudah dibayar, apa yang bisa dan harus dikerjakan ya dikerjain, tanpa ada niat untuk bisa berinovasi, mengembangkan diri, memperbaiki sistem, you name it. Jadi tiap hari ibarat udah kayak autopilot, yang mengerjakan hal yang relatif sama setiap harinya, sampe-sampe tanpa mikir pun bisa. Itu gak bener banget sih, bukan sesuatu yang sehat. And exactly not things I want to do. Tapi aku bisa apa?

Setelah sekian lama mencoba buat "bodo amat", aku malah seakan baru ditunjukkan pelajaran apa yang kira-kira sedang aku jalani. I began to look at my surroundings. I analyze the environment. Dan tiba-tiba semuanya kayak kebuka aja gitu. Pelajaran yang sebelumnya gak pernah aku dapet di tempat lain (well, mungkin karena cuma tempat ini yang kondisinya begini. agak aneh). Pelajaran yang nantinya bisa aku terapkan (atau tidak diulangi) di kemudian hari, kalau misal aku nanti jadi boss, misalnya.

Learn how to keep going even though you have this dis-functional boss.
Boss yang... entahlah, kerjanya udah antara ingin dan tak ingin. Yang udah masanya pensiun tapi tetep kerja jadinya gak bisa megang sama sekali (and the company has nothing to do with it). Dari awal udah gak ada gregetnya, as a manager she never really cares about her subordinates. We have this huge workloads, with limited resources to do that job, and it's worsen by the lack of system capabilities and so on. And she never tries to manage those workloads. Never asks their subordinates whether we have difficulties or not. Everyday she just sits at her desk, opens email, but we never know what she is doing. Every emails, even hard complain from pax, she never reply it. Mungkin gak dibaca juga kali.
I hate her so much. Perhaps I get too emotional sometimes, but how on earth orang yang udah gak produktif kayak gitu masih aja disuruh kerja? Manager pula! Yang setiap hari temen-temen selalu nanyain tentang pembagian kerja, atau penyelesaian case apa, atau rencana apa, pasti sama aku. Instead of her. Ya udah aja sini aku yang jadi manager sekalian! (I don't really want that position, tho. it's just sarcasm. Mending aku jadi manager di tempat lain aja yang lingkungannya agak bagusan!)

My SM and VP expect us to work better, faster. Iya kita yang dibawah sih udah cepet kerjanya, sigap tiap ada komplain atau kasus apapun. Tapi mandek di bosnya. Harusnya dia yang dimusnahkan dulu tuh baru semuanya bisa makin lancar. Gak jadi bottleneck di atas. Funny thing is, saking kita udah keselnya dan malesnya berurusan sama manager itu, karena pasti cuma jadi diribetin dan gak akan ketemu solusinya, aku sama temen-temen lain jadinya koordinasi sendiri. Gak pernah melibatkan dia. Karena percuma, gak bisa diajak kerjasama. Isinya malah dia jualan bisnisnya terus. Bales email setelah H+sekian dan nanyain apakah ini udah diproses apa belum, padahal itu case udah solved dari beberapa hari yang lalu. dan dia di-cc in loh di email. Do you even read? hellooooow!

Sampe sekarang, branch offices yang dari luar negeri juga tiap email ada kasus pasti langsung ke aku doang. Mau kasus ecek-ecek atau kasus gede sekalipun. Padahal tiap bales aku juga udah cc in si manager itu, tapi tiap mereka email selalu managernya diilangin. Usut punya usut, ternyata mereka udah pernah email ke manager itu tapi gak pernah dibales (boro, dibaca aja kagak kali) makanya udah kesel dan larinya ke aku. See? ngeselin kan orang itu. Pasca Haji bukannya membaik malah makin ngeselin.

Bayangin punya bos yang super gak fungsional kayak gitu. siapa yang gak emosi jiwa? Perasaan dari dulu bos-bos aku bener semua deh, dia doang yang gak beres. Imho, untuk menjadi bos, atau atasan atau apalah itu, dia harus udah selesai dengan dirinya dulu. Jadi abis itu dia bisa fokus untuk mengawasi anak buahnya, coordinating, dan lain sebagainya. Dan kalo menurut dunia HR yang dulu pernah aku pelajari, setiap boss atau calon boss itu harus ada fit and proper test dulu. Apakah dia layak dan mampu untuk memimpin anak buahnya? bukan cuma masalah teknis aja (itu sih wajib banget dia punya technical knowledge di atas anak buahnya), tapi juga personal skill nya. Apakah dia bisa memimpin, menginspirasi anak buahnya? apakah dia mampu untuk membagi pekerjaan secara adil kepada anak buahnya? Apakah dia bisa melihat potensi, kelebihan dan kekurangan masing-masing anak buahnya, sehingga bisa meng-assign pekerjaan sesuai dengan porsinya? Apakah dia bisa melihat potensi yang bisa dikembangkan dari tiap anak buahnya? Apakah dia siap dan sanggup untuk menjadi semacam "tameng" dan membela anak buahnya ketika mereka dihadapkan dengan workload yang berlebihan? Apakah dia bisa negotiating atas pekerjaan yang sudah overload yang tidak bisa dihandle oleh anak buahnya? Apakah dia bisa care dan melihat apakah anak buahnya itu sudah overworked, overload, demotivated, and so on?
See, it's not easy to be a leader. Dan jaman sekarang banyak banget ada leader tapi bossy banget, yang maunya cuma merintah dan tau beres, gak pernah ada feedback atau dialog sama anak buahnya. And being a leader is not about which one has the longest tenure. Not at all. Leader is about how to put the right man on the right place, in the right time.

PS. I will continue to write in this post. There are still so many things to write. Sekarang mau siap-siap kentjan dulu LOL




Monday, November 28, 2016

Pre-sleeping wishes

Weekend kemaren outing ke Jogja. Akhirnya bisa sedikit refreshing setelah udah enek banget sama hidup dan ga bisa ke mana-mana lagi. Lumayan menyenangkan, walopun ga bisa sepenuhnya "enjoy the moment and be present" karena you know, there are too much things in my head. 

Dari dulu tiap lagi main ke mana gitu selalu pengen bisa ajakin keluarga. Ke bandung, jogja, bali, etc. Kami bukan tipe keluarga yang punya budget dan jadwal pasti buat piknik sekeluarga. In fact, we never do that. Makanya dari dulu aku pengeeen banget. 

Ajakin jalan jalan, liat macem macem, beli apapun yg mereka pengen. Pengen ajakin ke borobudur, nonton sendratari ramayana, jalan jalan ke malioboro, belum pernah kesampaian. Pasti seneng banget adek adekku diajak ke malio dan bisa beli macem macem. 

Kemaren pengen beliin oleh oleh atau baju gitu aja masih mikir besok mau makan gimana kalo duit abis? I feel like a failure when i can't share my happiness to them. 

I move to my current company, salah satu alasannya juga supaya nanti gampang kalo mau ajakin keluarga liburan karena bisa dapet tiket gratis/diskon. Tapi ternyata sekarang juga susah kalo mau pake itu di rute-rute sibuk pas weekend. Jadi percuma juga punya konsesi kalo pas mau make harus selalu waiting list. 

Dan yang paling sedih adalah, i have no money left to spend for it. Sedih banget bukannya bisa memperbaiki keadaan malah makin balangsak. Bener bener ga bisa dibanyangin gimana sedihnya aku sampe nyesek sendiri setiap inget ini. 

Semoga nasib segera berubah menjadi lebih baik supaya aku bisa ajak mereka jalan jalan. 

Wednesday, November 23, 2016

Cold (play)

Hello again! Kayaknya mulai sekarang bakalan sering nulis deh buat menumpahkan uneg uneg hahaha. I used to share my everyday stories to people around me, but sometimes i'm afraid that they get bored or anything. Atau mgkn mereka sebenernya males dengernya karna kadang gak terlalu penting juga. Dan yah, mungkin males juga kali denger cerita aku yg sebagian besar isinya ngeluh semua :( 
Dan kayaknya aku perlu sedikit mengurangi ngeluh ke mas fariz. I don't want to full his head with all my problems :( biarin aja kalo aku ga bisa cerita ke dia, aku nulis di sini aja. Ga ada yg baca ini kan hehehe 

So, back to the topic. Akhir akhir ini lg hot banget tentang KONSER COLDPLAY!!! Tapi adanya kalo ASEAN cuma di Spore sama Filipina. Indonesia konon ga masuk hitungan karena piracy rate nya masih tinggi banget. Dan karena Coldplay ini amat sangat idealis, jadi mereka gamau konser di sini karena itu. Well, who knows. 

Aku pengeeeeen banget nonton. Dari dulu udah suka banget sama Coldplay. Dan dia adalah salah satu band yg aku rela beli lagunya di itunes. All albums. Tau kan ya lagu lagunya Coldplay tuh gak pasaran. Selalu authentic, deep meaning, complicated and rich music, pokoknya magical. Belum lagi live performance nya. Liat di youtube aja udh merinding, apalagi kalo liat live. 

Sampe dulu pernah bilang ke diri sendiri dan orang sekitar, that i will do anything if Coldplay happens to make a concert in Indonesia. Karena waktu itu biasanya dia konser paling deket di Aussie. Mau kerja lembur sampe pagi sampe boyokan gpp deh rela, asal bisa nonton Coldplay. 
Sampai akhirnya Coldplay beneran konser lebih deket bahkan, Spore. Tapi kondisi aku yg malah ga bisa nonton sekarang :( 

Ketika trade off nya gede banget antara bela-belain nonton atau gak usah nambahin beban dengan harga tiket yang emang lumayan itu. Gak mahal-mahal banget sih padahal. Dengan salary rate yg dulu sih masih bisa kebeli sebenernya :( 

Sediiih banget rasanya. Salah satu wish list aku banget, pas dateng malah gak iso. Padahal kapan lagi coldplay konser sedekat ini. Mungkin masih lama kali. Soalnya dia sekali abis ngeluarin album trus konser abis itu vakum lamaaa. Apalagi ini album yg paling bagus dan deketan sama album sebelumnya. Pastiii song list nya juga bagus bagus :( 

Padahal harganya ya gak mahal-mahal amat sih. Paling murah 900k an. Kalo yg mau deket banget sekitar 2.8 mio sampe 3 koma sekian lah. Sebenernya masih bisaaa kalo kondisinya masih seperti yang dulu :( 

Padahal udah nunggu nunggu banget. Tapi mungkin belum rejekinya buat nonton langsung. Kalo kata mas fariz: "kebahagiaan yang ini terlalu mahal. Masih ada banyak kebahagiaan lain." Yes, but still :( 

Kadang suka sebel aja sama kondisi sekarang. Saat semuanya ga jelas. Apapun yg aku butuh, aku pengen ini itu, ga pernah bisa kesampaian. Masih harus sabar. Entah sampe kapan.