Saturday, December 22, 2012

again.

inikah namanya cinta diam-diam~

well. gak bisa dipungkiri kalo aku bener-bener sayaaaang banget sama dia. Walaupun aku tahu sih, kayaknya rada impossible. Kita kan gak deket, ya. Mungkin dia juga bakal ngerasa aneh kalo tau aku sayang sama dia. Sesayang ini sama dia. Tapi ya gimana, kadang aku emang bisa cepet suka dan sayang sama orang, bahkan kalo baru sebentar kenal sekalipun.

Padahal kemaren-kemaren aku juga sempet tersadar kalo mungkin kita gak akan punya kesempatan. Belum lagi fakta-fakta lain yang aku tau, yang semakin memaksa aku buat bisa TAHU DIRI karena aku bahkan GAK TAHU APA-APA tentang kamu. Sempet down dan mundur juga. Sempet setengah mati mencoba buat cuek ke kamu, buat gak melihat ke arah kamu, buat gak peduli sama apapun yang kamu lakuin. Tapi ternyata cuma bisa bertahan beberapa hari, karena pada akhirnya aku tetep aja kepikiran kamu,. Se-kepikiran itu. Dan karena tiap hari adaaaa aja hal yang bikin aku semakin kagum dan suka sama kamu.

"Mungkin kau takkan pernah tau betapa mudahnya kau untuk dikagumi. Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk dicintai..." (Pemuja Rahasia - Sheila on 7)

Dari dulu, yang namanya rasa sayang emang gak pernah bisa dihindari. Sekalinya udah sayang sama orang, pasti akan bisa sampai sesayang ini. walaupun mungkin dianya gak tau atau gak mau tau.
Buat aku, yang penting bisa liat kamu seneng. Kamu emang bukan tipe orang yang gampang deket dan terbuka sama cewek ya, kalo aku liat. Kamu juga lumayan jarang ngobrol sama temen cewek. Pertama aku mikir kalo mungkin emang itu sifat kamu, yang agak introvert. Tapi lama-lama aku jadi mikir kalo kamu ngelakuin itu mungkin karena di hati kamu udah ada seseorang yang kamu sayangi, whom I don't know who the lucky girl is.

Well, I've loved somebody with all my hearts, and it's been always enough for me.
Aku sayang kamu itu urusan aku, bagaimana kamu itu urusan kamu.

Sekarang aku cuma bisa diam-diam liatin kamu dari jauh, perhatiin kamu dari jauh. Aku tau kok pas kamu lagi sakit, pas kamu lagi rada lemes gara-gara puasa, pas kamu lagi kedinginan, pas kamu lagi ngantuk. Aku tau :)

Tiap aku liat ke kamu, atau liat ke arah kamu, dalam hati aku selalu berdoa semoga aku bisa terus sayangin kamu, dengan setulus-tulusnya. Dan semoga Allah juga mengijinkan perasaan ini bisa berlabuh. Dan semoga suatu saat nanti kamu bisa sadar, dan bisa merasakan hal yang sama ke aku. Wallahu a'lam.

Sejauh ini aku udah bisa lumyana deket, lumayan sering ngobrol sama temen-temen cowok lain. Tapi sama kamu, masih lumayan jarang.
Well, dari jauh keliatan gak terlalu deket dan gak terlalu kenal, tapi sebenernya menyimpan perasaan sayang yang teramat mendalam. Keren kali, ya. Tapi, nyeseknya juga keren. Tiap hari, tiap saat, tiap waktu, cuma bisa perhatiin kamu dari jauh. Tapi, aku tau :)



Sunday, December 9, 2012

especially for you

hey,
do you remember when we accidentally sing this song together? Especially for you.
Actually, I don't really know about this song, But I don't know why I could sing it some days ago, with you, and with some other friends, actually hehe. Well, I just relied on my instinct. I'm usually able to guess the tone, the rhyme, or something like that. I don't know whether I have heard this song or not, but one thing for sure, I can sing and loooove this song since that day.





And, before we sang this song, we also accidentally sang one song, in duet, Lucky by Jason Mraz and Colbie Caillat. I love that song, so I picked it. And yeah, once more, accidentally we sang it together. And I was so surprised that we could sing it in duet, perfectly, in a very good harmony. (Well, not that perfect perhaps, but I was just like the original version hoho).

aaahh. At that time I just felt like, are we meant to be each other? Because yeah, I like you. But I don't know what's your opinion about me, I don't want to assume or expect anything, for it just disappoint me, maybe. So, I just... hope that you feel the same way too. And I don't want to seemed like I'm very interested to you. Yeaa maybe I'll a little quite to you. I won't make it so obvious that you might feel uncomfortable with me. I will make sure to keep my distance, til I'm sure that you feel the way I do.

I just realize, and-partly-wishing that we're meant to be. I don't know. I just can feel it. Or maybe, dream it.
But this is, especially for you.

Thursday, November 29, 2012

Distance

Lagi suka banget sama satu lagu ini. Muter terus di kepala, dan udah jadi sountrack hati selama bulan November ini.
Distance, by Christina Perri


The sun is filling up the room
And I can hear you dreaming
Do you feel the way I do right now?
I wish we would just give up
Cause the best part is falling
Call it anything but love


And I will make sure to keep my distance
Say "I love you" when you're not listening
How long can we keep this up, up, up?

And please don't stand so close to me
I'm having trouble breathing
I'm afraid of what you'll see right now
I give you everything I am
All my broken heart beats
Until I know you understand

And I will make sure to keep my distance
Say "I love you" when you're not listening
How long can we keep this up, up, up?

And I keep waiting
For you to take me
You keep waiting
To save what we have

So I'll make sure to keep my distance
Say "I love you" when you're not listening
How long can we keep this up, up, up?

Make sure to keep my distance
Say "I love you" when you're not listening
How long til we call this love, love, love?


Sunday, November 25, 2012

another demotivation

demot. lagi, setelah sekian lama. padahal aku udah berbangga hati kalau selama ini bisa berhasil terlepas dari kata itu. ternyata sekarang datang lagi.

mungkin karena aktivitas yang high pressure tapi cukup monoton, yang menuntut otak dan fisik buat selalu siap dijejali berbagai hal yang banking related, plus ujian-ujian yang menanti di hampir setiap penghujung hari. rasanya kalau bisa teriak, pengen deh teriak. but again, di sini bukan tempat yang cocok untuk berkeluh kesah. yang ada hanya harus terus berusaha, belajar, dan..... berdoa.

aku amat sangat seneng dan bersyukur bisa masuk ke program ini. sangat bersemangat. karena ya, gak ada lagi yang harus dilakukan selain harus terus semangat kan. apalagi aku suka banget sama lingkungannya, teman-teman seprogram ku yang walaupun kita baru kenal selama kurang lebih 4 minggu, rasanya udah saling akrab satu sama lain. trus juga materinya yang (untuk saat ini) aku suka. mudah-mudahan sampai ke depannya terus-terusan lancar, ya. Amin.

besok akan ada ujian ke-empat dalam minggu keempat program ini. rasanya semangat udah hampir habis. padahal perjalanan masih sangat jauh. masih sekitar 5 bulan lagi. dan sialnya, entah kenapa demotivasi itu muncul lagi.

mungkin ini cuma efek samping dari beberapa hal yang aku alami. mungkin aku cuma homesick? kangen keluarga? kurang hiburan? pengen lebih banyak refreshing? atau terlalu capek untuk terus-terusan ujian?
apapun itu, yang jelas aku butuh suntikan semangat. dalam bentuk apa? dari siapa? entahlah.

selama ini selalu kecewa kalau mengharapkan sesuatu dari manusia. pun demikian halnya kalau aku berharap akan ada sesuatu (atau seseorang) yang menyemangati aku. oke aku udah pasti dapet support penuh dari keluargaku. tapi, bukan tipe support itu yang aku maksud. ngerti kan?

jadinya sekarang berusaha buat menyemangati diri sendiri aja deh. toh internal motivation itu sifatnya lebih kuat dan lebih tahan lama. biasanya. inget aja kalau ini adalah masa-masa penuh perjuangan. inget aja kalau ini adalah kesempatan langka yang udah dikasih Allah buat aku. inget aja kalau aku masih punya banyak kewajiban yang menunggu untuk diselesaikan. inget aja kalau aku, dan yang paling penting keluargaku, harus dapat bertahan hidup. inget itu aja.

mudah-mudahan demotivasi ini gak terus berlanjut sampai berdampak negatif buat performance aku. mudah-mudahan besok bisa kembali semangat lagi, waktu liat temen-temen yang super semangat. waktu kita selalu belajar bareng sebelum menghadapi apapun bentuk ujiannya. waktu kita selalu ketawa-ketawa bareng sampai tulang pipi rasanya mau copot.
yah, kayaknya aku kangen sama mereka. tenang aja Ay, besok juga ketemu kok :)

ok. kesimpulannya, jangan pernah berhenti berjuang dan menyemangati diri sendiri. kamu harus bisa terus jalan, dengan langkah kaki yang lebih lebar dari biasanya, dengan kepala yang selalu melihat jauh ke depan, serta dengan mulut yang tak henti-hentinya berdoa.

it's a must, Ay. karena kalau boleh mengutip kata-kata dari blog sebelah, dalam program ini kita "Pass or Die"







Monday, October 15, 2012

History and (or) Mystery

".. Dan ku bisa dengan radarku menemukan mu.." (Perahu Kertas)

Ya. I've found you. Setelah entah berapa lama lost contact.
Namanya Yudis. Yudistira Satria Wibowo. Suka banget sama namanya. Sama orang dan sifatnya juga. Aku emang belum pernah bisa kenal lebih jauh lagi sama dia. Belum pernah ada kesempatan, lebih tepatnya. Sejak dari SMA dulu -sekitar tahun 2007- sampai sekarang. Emmm ceritanya agak absurd. Mungkin judul yang paling tepat adalah "one-sided love". Apakah itu? Hal yang lumayan menyedihkan di dunia ini.


History:

Aku udah suka, sayang sama Yudis sejak 2007 lalu. Sampai sekarang, jadi kurang lebih udah 5 tahunan, ya. Gila. Walaupun dulu aku juga udah pernah punya "kisah" lain, tapi entah kenapa ujung-ujungnya selalu balik ke Yudis. Entah mengapa. Tapi nyatanya, once you love someone, that feeling will always there. Kecuali kalo emang udah ada ending dan closure yang jelas, nanti feeling itu bakal ilang sendiri. Tapi sama Yudis? Belum pernah mengenal kata "closure".

Pertama kali liat Yudis, pas kelas 3 SMA dulu. Ceritanya kelasku sama kelas dia digabung di mapel seni musik, buat nampilin suatu pagelaran musik. Jadilah kita latihan bareng. Suatu hari aku ngerasa baru pertama kali liat dia. Aku pikir dia anak kelas lain yang lagi main-main aja di ruang musik. Tapi ternyata, dia sekelompok sama kelasku. Pas pertama liat dia, aku langsung suka. Well, gak memungkiri, pas pertama diliat pasti face-nya. Dia lucu. Imut. Dan dia jago main gitar (atau bass, ya waktu itu. Lupa).

Selama beberapa kali kita latian, aku juga sering ga sengaja liat dia. Aku emang tipe orang yang gampang kagum sama orang yang jago main musik, jadi ya gitu deh. Semakin suka aja liat dia. Apalagi dia juga orangnya baik (kayaknya). Kita masih jarang ngobrol sih waktu itu. Sampai waktu itu kita shalat berjamaah, dia yang jadi imamnya. Awalnya aku mikir, "ah, cowok gaul kayak dia pasti bacaan shalatnya biasa aja."
Tapi ternyata aku salah. Bacaan shalatnya, subhanallah. Untuk ukuran anak SMA, menurutku bagus banget. Jadilah aku semakin kagum sama dia.

Waktu hari-H pentas seni itu, ada beberapa kejadian antara aku sama dia, yang bikin aku deg-degan. Kejadian sepele, sih. Misalnya waktu dia tiba-tiba milih duduk di belakang aku (yang waktu itu aku sampe GR banget, padahal setelah ditelisik lebih jauh lagi, dia pasti duduk di belakang aku karena di atas kita ada kipas anginnya. jadi biar adem gitu); trus juga waktu aku numpahin minuman di kaki dia. trus kalo gak salah inget, dulu kita juga sering diledekin sama temen-temen.
Mungkin emang amat sangat sepele banget, tapi buat aku yang lagi "jatuh cinta" waktu itu, cukup buat bikin aku sesek gak bisa nafas. True story.

Aku pernah baca di suatu tempat, katanya:
"When you like a guy, do nothing about it and expect him to magicallly know and make the first move." (Women's Logic)
Ya, kayanya itu women's logic. Tapi aku bukan tipe perempuan yang kayak gitu. Aku selalu pengen usaha dulu, entah bagaimanapun caranya. Entah ini sisi positif atau sisi negatif.

Jadi, singkat cerita, aku sampai minta nomor HP dia ke temenku yang sekelas sama dia. Mulailah kita SMS-an, cerita ini-itu, ketawa ketiwi gak jelas. Dulu kita juga sempet mau ketemuan gitu ngobrol langsung, tapi trus dia batalin karena dia mendadak harus ke luar kota. Sedih banget waktu itu, tapi yaudahlah. Trus waktu kita perpisahan SMA, rasanya pengen banget bisa ngobrol sama dia waktu itu, tapi karena kita gak sekelas jadi susah ketemunya. Padahal malem sebelum perpisahan itu kita masih SMS-an.........

Sampai akhirnya aku jujur sama dia kalo aku suka ma dia. Awalnya dia kaget, dan akhirnya dia juga bilang kalo dia ada rasa juga ke aku (entah itu bener atau bohong). Tapi dia bilang kalo lebih baik kita sahabatan aja, lagian kan kita baru lulus SMA, masih banyak hal yang harus kita pikirin. Masih banyak hal yang harus kita raih. Kita harus bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua kita dulu.
Reaksiku waktu itu: OMG, Yudis bener banget. Ya ampun, dia wise banget sih, udah sampe mikir ke sana. Oke deh, yuk kita raih cita-cita kita dulu. Gak apa-apa deh cuma sahabatan dulu sama dia.
Reaksiku sekarang: OMG, itu tuh tandanya secara gak langsung dan secara halus dia nolak kamu! Dia gak suka sama kamu!
Keliatan banget kan, dulu segimana naif-nya aku.

Ya, dengan berbekal ke-naif-an dulu kala, aku tenang-tenang aja. Tetep sayang sih sama dia. Cidaha. Cinta dalam hati. Kita masih sempet komunikasi sih, kadang-kadang. Buat aku (waktu itu), yang penting kita masih bisa keep in touch.

Oh iya, ada satu lagi top secret yang belum aku share. Yudis adalah orang yang bikin aku memutuskan buat pindah jurusan dari Matematika ke Manajemen. Kenapa bisa? Begini ceritanya.
Dulu di Matematika kan bisa dibilang aku gak suka. Udah gitu susah. Jadi stress lah akibatnya. Nah, waktu itu aku sering membayangkan, kira-kira Yudis di sana belajar apaan, ya? (Kebetulan Yudis kuliahnya ambil Manajemen). Alhasil aku tanya-tanya ke temenku yang anak manajemen, pinjam buku-buku dia. Dengan harapan bisa lebih jelas mengira-ngira Yudis belajar apa. Eh, akhirnya aku malah ngerasa kalau manajemen lah yang pas buat aku. Aku suka sama materinya. Mungkin terpengaruh secara subyektif juga, sih.Tapi akhirnya aku memang memutuskan buat pindah ke Manajemen. Harus.

Sebagai anak IPA yang gak ngerti sama sekali tentang IPS (dan gak punya bukunya pula), akhirnya aku coba-coba buat pinjem buku-buku IPS ke Yudis. Ternyata dia menyambut baik dan dia minjemin buku-buku IPS yang banyak banget. Surprised. Tapi seneng. Jadilah aku semangat banget belajar IPS-nya.
Anehnya, ada beberapa buku itu yang bukan buku dia. Jadi ada yang pake nama orang lain, teman sekelasnya. Aku langsung GR aja, mikir kalo "wah, dia baik banget sampai nyariin dan minjemin buku dari orang juga." Sekali lagi, GR.

Singkat cerita, akhirnya aku berhasil lolos tes SIMAK UI 2009, dan bener-bener masuk manajemen. Aku seneng banget, trus langsung ngasih tau Yudis. Dia juga seneng. Lega..
Tapi setelah itu, kita sama-sama udah mulai sibuk sama kuliah kita masing-masing. Jadi jarang komunikasi. Dan aku malah dapet kabar kalau keluarga dia pindah rumah ke bekasi (dapet info dari adeknya, dengan berbekal SKSD ke adeknya lewat twitter) dan dia keluar dari kuliahnya. Sedih.

Sejak saat itu, bener-bener lost contact. Dan aku seakan udah rela lah kalau di sana dia punya pacar. Toh aku juga bukan siapa-siapanya dia kan, gak berhak buat marah. Aku sempet nemu FB dia, tapi gak aku add karena aku gak mau ganggu hidup dia lagi. Yah, akhirnya kita punya kisah masing-masing.

Akhirnya skripsiku kelar. Kuliahku selesai. Di momen-momen yang penuh kebahagiaan itu, aku mulai flashback perjalanan studi ku dari awal di manajemen. Tiba-tiba teringat, kalau aku bisa sampai kayak sekarang ini ya salah satunya atas jasa Yudis. Bagi dia mungkin bantuannya waktu itu cuma hal kecil yang gak berharga. Tapi buat aku, justru itulah yang menjadi awal dari segala pencapaian aku selama ini. Sometimes the little thing you do to other, means a whole world for them.

Makanya aku bener-bener bersyukur dan berterima kasih sama dia. Pengen rasanya mengucapkan terima kasih secara langsung ke dia, tapi dengan cara apa? Aku spesial memasukkan nama dia ke salah satu daftar di ucapan terima kasih di skripsi aku. Dan, you know what? Nulisnya pake hati. Suer.



Aku punya ide. Aku fotoin bagian ini, trus aku twitpic ke adeknya, dan minta tolong ke dia buat nunjukkin ini ke Yudis. Yah, itulah satu-satunya cara yang aku bisa tempuh buat menyampaikan rasa terima kasihku buat dia. Bahkan adeknya sempet ngeledekin aku juga. Dan dia ngasih nomor HP Yudis, tapi sampe sekarang aku gak pernah hubungin dia. Kenapa? Karena (kata adeknya juga) Yudis udah punya pacar. Aku gak mau ganggu. Walaupun dengan menghubungi dia bukan berarti mengganggu hubungan dia sama pacarnya sih, tapi aku tetep gak mau. I don't wanna be an antagonist.

Sejak saat itu, my mind and heart are full of love for him (again). Ceritanya mau CLBK, tapi cuma di satu sisi, di sisi aku aja. Tiap saat kepikiran dia. The knight's finally come, but the timing's wrong. Mungkin sampai sekarang kita belum ditakdirkan buat ketermu. Setiap aku inget kalau dia udah punya cewek, aku berusaha buat sadar, tahu diri, dan yah.. menerima keadaan.

Beberapa temen deketku yang tau kalau aku lagi suka lagi sama Yudis, bener-bener kaget dan mempertanyakan. They asked, "Hey, are you serious? I mean, why don't you get another guy?"
atau "Hey, it's been 5 years, and isn't it just wasting your time, loving someone for so long time?"

 Mystery:


Aku gak tau harus bilang apa kalau mereka tanya kayak gitu. Selama ini aku juga udah berusaha buat bisa suka sama orang lain, tapi nyatanya, until now. he's still the one. The only one I need.
Dan masalah wasting time, aku gak pernah menganggap kalau menyayangi seseorang itu wasting time. Justru kita bisa belajar banyak dari situ. Belajar buat pasrah, buat berjuang, buat ikhlas on the other day. Itu.

Tapi akhirnya aku jadi mikir juga. Tetap bertahan kayak gini, mau sampai kapan? Toh dai juga gak ada respon apa-apa. Aku pikir "pergerakan" ku selama 5 tahun terakhir ini udah cukup. Sisanya, tinggal Allah SWT yang menggerakkan. Kalau memang masih bisa bergerak.
Kata papahku, kalau emang dia gak merespon, kenapa harus dilanjutkan? Ya pastilah dia gak ngasih respon apa-apa, karena dia udah punya pacar, dan dia pasti berusaha buat setia sama pacarnya (which is good, he does the right thing). Jadi, sudahlah. Kalau memang dia jodoh kamu pasti dia akan kembali ke kamu, dan dia yang akan gantian memperjuangkan kamu, sebagaimana kamu memperjuangkan rasa sayangmu ke dia selama ini. Dan, ingat, tidak semua hal yang menurut kita baik, juga baik menurut Allah. Jadi, sudah, sudah cukup kamu berjuang sendirian.

Papahku ini emang ajaib. Tau aja caranya mengingatkan anakanya untuk selalu kembali rasional.

Ini memang sudah sampai di titik yang di luar kuasa manusia. Sekarang aku cuma bisa pasrah. Dan aku seneng liat dia udah bahagia di sana. Well groomed, happy life. I'm so happy for you, Yudis :)

Tadinya aku lagi mau menerapkan lirik lagunya Rossa yang Menunggu:
Ku menunggu
Ku menunggu kau putus dengan kekasihmu
Tak akan ku ganggu kau dengan kekasihmu
Ku kan selalu setia tuk menunggu mu...
Tapi kok rasanya jahat banget, mengharapkan orang buat putus sama pacarnya. Astaghfirullah. Jadi sekarang gak jadi. Pasrah aja lah.

Funny story:
Dulu pas aku masih nunggu dia, aku sampe nulis gini "Selama anggrek bulan masih belum punah dari muka bumi, aku akan tetap sayang sama dia." (Kenapa anggrek bulan? Karena pas pensi dulu kita nampilin akustik pake lagu Anggrek Bulan-nya Chrisye).
da salah satu quote di FB ku aku tulis "Like you have special motivator. Someone you would run to, wait for you in the finish line with open arms. Which you have to reach there quickly to hug him back." (Someone yang aku maksud di situ adalah Yudis itu, yang aku asosiasikan dia nunggu aku di finish line di Manajemen).

Cinta, se-absurd itu.

"Cinta yang tak mungkin terbang tinggi..."



and... maybe this is my closure.