Wednesday, February 8, 2017

Hope is all you need

Do you ever feel like you are really wanting something? The thing that could and would change your life? Not only yours, even your entire family lives? 

Well this is my current condition. Two days ago I attended job interview in a company. A great company, like very great, to work for. They flied me to Sby and covered all of my accomodations expenses. It feels so heartwarming that they invited me and offered me this amazing opportunities to be one of the candidates to be their new family members. Of course I tried to give all my bests, invested my time, thought, energy, and everything this past two weeks to prepare for this presentation and interview sessions. 

I tried to give my best, eventho at the end I felt like not really maximum. I dont know, I was just incredibly nerveous at the time that I couldnt elaborate what I wanted to say as planned. Believe me, even when you already rehearse so many times, when it comes to the real interview session, boom! It feels like all you have rehearsed is gone. More like impromptu all the time. 

But still, I can only hope and pray for the best result, because once again, I did it not only for me, but also for my family. 

Last night I called my father to tell him all about it. Surprisingly he really encourge me and also hopes that I can get that position. My grandma also called this morning and sent her highest hope to me. She even already has plans if I get the position. 

In this moment, I begin to more realize that everybody has high hope on me. I'm not saying that they depend on me, but it's just.. You know, sometimes you just feel that their future, their lives, are greatly correlate with yours. That everything that I do, or I have, will affect them. That I have this very big role in shaping their future lives, even if indirectly. 

Then I flashback to how I did yesterday. Did I do great? Did I nail the interview? Will I be one of the new members of that company? Being one of the 30s candidates that successfully get the position? Will I change my family lives? Will I make their lives better? Can I fulfill all their hopes? Their needs? 

There are so many thought in my head after that interview. Often I said to myself that I could do better. But then, that moment's gone. The only thing I can do is pray, pray, and pray. And ask my whole family to pray for me. What else can I do? 

From the very first time, i said to myself that everything I do, every attempt, every chance that I take, I do it for my family. For a greater good. For bigger impacts. 

And when I look at the other candidates, I know that they also have so many different motives, hopes, expectations. I only wish that all of the candidates will get the job there. Because all of us deserves it. Aamiin. 

Tuesday, January 17, 2017

Rollercoaster

Hmm. Mau mulai dari mana dulu yaa. 

Gini deh. Kan di saat lagi aktif-aktifnya jadi job-seeker gini, "social media" yg paling sering aku buka sekarang adalah Jobstreet sama LinkedIn. (LinkedIn termasuk ke dalam kategori social media loh menurut beberapa sumber). Nah kalo di LinkedIn tuh selain cari vacancy juga karna ada banyak artikel bagus yg dipost oleh company/media/grup yang aku follow. Salah satunya adalah yg temanya tentang job seeking dan semacamnya. 

Ada lah satu artikel yg membahas tentang "Pain Letter", sebagai pengganti atau versi terbaru dari cover letter yang sudah dianggap kurang efektif di masa sekarang. Bedanya pain letter sama cover letter adalah, kalo pain letter itu lebih to the point dan concise, dengan kita lebih menekankan tentang kira kira "pain" atau masalah apa yg sedang dihadapi oleh perusahaan/unit itu, lalu kita mencoba untuk menawarkan kemampuan kita untuk menangani pain itu berdasarkan skill dan pengalaman yang kita punya. Jadi intinya kalo pain letter itu kita lebih mementingkan kebutuhan dan kepentingan perusahaan yang kita tuju, instead of menerangkan panjang lebar tentang kemampuan dan pengalaman kita aja. 

Idenya sih, dengan kita lebih care terhadap permasalahan perusahaan dan penyelesaiannya apa, hiring manager atau possible next employer kita tuh akan lebih terbuka. Karna untuk menyusun pain letter juga butuh banget research tentang perusahaan itu, supaya tau kita nanti akan menghadapi apa sampai-sampai perusahaan membuka vacancy itu. Jadi kalo pain formulationnya tepat sih itu bakal jitu dan tepat sasaran banget. Dibandingkan dengan cuma menjabarkan keterangan ini itu di cover letter yang ribuan orang juga mungkin sama aja pola dan kalimatnya. 

Menurut aku sih, makes sense ya, asal ya itu, pain formulationnya tepat. Makanya aku juga penasaran buat nyoba bikin dan pake cara itu. Siapa tau dengan cara yy berbeda akan menghasilkan output yg beda juga kan. Nah tapi pain letter ini akan lebih efektif kalo langsung ditujukan ke hiring managernya, alias usernya. Kalo ke tim rekrutmen agak kurang mengena. Berhubung udah niat mau coba pake cara ini kan ya jadinya sekalian aja jangan tanggung tanggung. Jadilah aku search di LinkedIn, karyawan yang ada di unit yg mau aku apply. Setelah scrolling panjaaaang sampe ke bawah akhirnya nemu beberapa. Ada satu yg sama persis, dan kebetulan dia manager di unit itu. Seneng banget kan! Langsung aku add LinkedIn nya. Tapi sayangnya pas aku cek di profilnya gak ada alamat emailnya. Gak mungkin kan apply via kirim message doang? Akhirnya aku berinisiatif buat search nama dia di facebook, siapa tau ada alamat emailnya. 

Pas aku search di facebook, ternyata dia itu friend nya dosen pembimbingku! Surprised! Langsung kan aku kontak dosenku saat itu juga, nanya kenal gak sama orang itu. Ternyata dia dulu mahasiswa nya dosenku pas di MMUI. Akhirnya aku cerita panjang lebar dan minta email dia. Dosenku ngasih setelah nanya dan dijinin buat share email mbak itu ke aku. 

Relieved. Awalnya. Tindakan spontan yang awalnya niatnya cuma iseng nyoba tapi trus agak merasa dipermudah gitu kan, akhirnya beneran diniatin. Abis dapet emailnya langsung mikir buat nyusun pain letternya. Research webnya, annual report nya, sama beberapa laporan keuangannya. Singkat cerita jadilah itu pain letter. Trus update cv, ganti ini itu. 

Biasalah selalu ga pede sama kerjaan sendiri, akhirnya aku konsultasi haha. Thanks je! Dan dari hasil konsultasi itu dikasih saran untuk tetep ada pembukaan/perkenalan dulu sebelum beralih ke pain nya. Iya bener juga sih, takutnya nanti gak sopan dan sok tau kan. Dan karena konsep pain letter juga masih sangat tabu di indonesia, mungkin.  Aku jadi mikir lagi kaaan. Sempet rasanya mau ga jadi aja pake pain letter itu, tetep pake cover letter biasa aja. Yaelah udah segini aja masih pake galau Ay -.- 
Akhirnya setelah menimbang sekian lama aku putuskan buat nulis perkenalan dan pain letter di body email.. Dan attach cover letter plus CV. Ce-men. Yah walopun sempet mikir "I'm already in my lowest condition right now, it won't make any difference if I do anything differently. Like, what could get worse?" - tapi tetep aja, cemen. Main aman. Cupu. 

Jadinya body email itu panjang -.- 
Sempet mikir, ini nanti orangnya males baca duluan gak ya liat email isinya panjang kali lebar kali tinggi. Hah yaudahlahya, namanya juga usaha. Anyway aku sampe googling loh tentang kapan waktu terbaik untuk mengirimkan email berisi resume kepada hiring manager hahaha. Seniat itu, sumpah. Ya kan biar totalitas sekalian. Dan hasil googling ku itu katanya kalo weekday ya pas pagi antara jam 7-8. Oke dan waktu itu hari Senin. Ada artikel yg bilang lebih bagus Selasa daripada Senin karna kalo Senin orang masih males bla bla bla, tapi yaudahlah akhirnya aku putuskan buat kirim pagi itu juga. 

Sampe kantor langsung buka gmail, ngetik ngetik, dan kirim resume ke luar pake internet kantor HAHA. Absolutely barbaric. Abis itu perut mules ngebayangin reaksinya. Eh tapi kan dia juga udah ngasih ijin ya buat email. Toh juga kita ada mutual professor nya kan (istilah apa ini, mutual professor). 

Seharian gak bisa tenang karna ini sebenernya ngarep banget sih bisa keterima. Karena kerjaannya 90% mirip kayak kerjaan waktu di bank dulu. Dan ini kantornya deket banget dari kosaaan yaampun. Trus private bank yang karyawannya gak sebanyak public bank, jadi kemungkinan kesejahteraan karyawannya masih lebih diperhatikan. Jadi ya gitu deh, ngarep tingkat dewa. 

Pas siang emailnya dibales. Dan tau gak isinya apaaa? Ternyata, ehem. Vacancy itu sebenernya buat menggantikan si mbak itu. Which is manager kan. Dan dia udh forwars ke bos nya pagi itu juga. She wishes my resume suits her boss' needs. 
You know what? I don't know how to respond. Hahahah. Vacancy itu untuk managerrr. Dan dia di sana udah 5 tahunan kalo ga salah. Antara masih ngarep (dikit) dan pasrah sih. Secara, manager gitu. Ya ada sih temenku yg dulu keluar dr bank itu ke bank lain langsung jadi manager. Ah semoga ada keajaiban. Yang penting segala hal udah dilakuin kan? But still, funny how it turns out at last. Whatever will be will be deh. 

Saking seringnya aku buka Jobstreet dan LinkedIn di kantor, temen temen kan jadi banyak yang tau kalo aku lg usaha banget cari kerja. Aku sih bodo amat ya, tetep fokus aja. Tapi mereka tuh masih teteep aja ada yang menilai aku tuh kurang bersyukur lah, trus sayang banget buat keluar dr sini lah, itu lah. Beberapa orang yang ngerti aku sih paham ya alasan aku tuh apa sampe akhirnya bener bener seniat ini buat keluar. Ya di samping ada faktor dari perusahaan itu dan lingkungan, ada juga faktor dari internal aku sendiri yang bikin bener bener ga bisa bertahan. Kalo kondisinya tetep aja kayak gini aku ga bisa hidup. 

Aku sih ga memaksa orang lain buat paham akan hal ini ya. Karna mau dijelasin berapa kali sampe berbusa pun, ga akan ngerti. They've never been in my shoes. They will never be. Jadi percuma mau debat juga. Mending disenyumin aja, disyukuri aja. Sukurin! 

Ga ada yg tau kan gimana rasanya uang tinggal 150 ribu dan harus diirit buat sampe 15+ hari? Secara kalkulator aja udah ga masuk hitungan. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya beberapa hari nahan laper ga makan malem, demi save uang buat bertahan hidup sampe gajian? Makan sehari cuma sekali. Dan direm banget jangan sampe lebih dari 20 ribu.
Ga ada yang tau kan rasanya dua hari berturut turut cuma makan pake nasi dan ikan asin? Alhamdulillah kemaren pulang dibawain beras sama ikan asin, jadi bisa buat menyambung hidup. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya laper, pengen makan ini itu, tapi harus direm bener bener buat menghemat pengeluaran? Lupain dulu lah itu pengen gemuk. Impossible. Yang ada ini badan makin tipis tinggal tulang berbungkus kulit. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya sedih banget ga bisa bales sms dari ibu karna pulsa abis dan ga bisa beli? Boro boro mau curhat, bales sms yang isinya nanya lagi ngapain aja ga bisa. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya berhari hari di kosan aja ga kemana mana, tiap diajak main sama temen ga bisa ikut demi menghemat pengeluaran? Yang sampe akhirnya temen juga jadi males ngajakin lagi. And I don't know what they're talking about anymore. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya setelah seharian di kantor stress sendiri, pas pulang juga makin stress sendiri, mau cerita ke orang juga nanti malah jadi nambahin beban orang itu. Akhirnya yaudah diem sendiri. 
Ga ada yang tau kan rasanya pas lagu diem sendiri tiba tiba langsung nangis yang bener bener terisak sampe ga bisa nafas. Dari yang air mata keluar banyak banget sampe nangis tanpa air mata. Dan seketika itu jg yg terlintas di kepala adalah muka muka keluargaku, yg belum juga bisa aku bikin sejahtera hidupnya. 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya, sampe kepikiran buat commit suicide? Big time! 
Ga ada yang tau kan gimana rasanya dicuekin sama ayah sendiri? Entah dia marah sama aku atau sama dirinya sendiri, yg sekarang aku udah ga bisa bantu banyak. Yang waktu aku di rumah terakhir itu ngobrol aja jarang. Yang pas aku mau balik ke jakarta lagi, pas mau pamitan dia malah udah pergi. Bener bener sengaja pergi. Trus aku harus cari sosok ayah dari siapa? 

Ga ada yang tau kan gimana rasanya? 
Dan orang lain emang ga perlu tau. Dan ga perlu menjudge. 
Iya mereka yang kerja cuma buat diri sendiri. Atau bantu orang tua dikit. Yang gak perlu mikir bayar kosan. Gak perlu mikir makan pake apa. Gak perlu mikir kalo pengen beli ini itu, makan ini itu. 

We have different path, different story, different battle to fight for. Dan selama gatau kondisi sebenernya seseorang, ga perlu menjudge! Karna mau dikatain segimana juga gak akan pernah ngefek. Aku mau dibilang gak bersyukur kek, gak tau diuntung kek, bodo amat! You dont know me. Kalo ada yg bilang aku lebay dalam merespon semua kejadian di kantor dan kelakuan bos bosku. Well, it's not only about them kok. More importantly, it's about me. 

Mungkin saat ini penyelesaian yang aku butuhkan ya penghasilan yang lebih besar. Karna buat menekan pengeluaran ini udah maksimal banget. Rasanya kayak udah mau mati tau gak sih, nahan laper terus tiap hari. Makanya balik lagi ke piramida kebutuhan ala Maslow, aku tuh ibarat makhluk primitif banget yang bahkan kebutuhan pokoknya pun belum terpenuhi. Boro boro aku kepikiran buat kebutuhan lain. Malah ngajak liburan make konsesi tiket -.- 

Gitu deh. Udah ga ngerti lagi mau gimana. I am too desperate to think. 





Saturday, December 3, 2016

Learning The Hard Way

You know, selama kurang lebih enam bulan ini rasanya aku selalu penuh dengan penyesalan. Menyesal karena sudah memilih jalan yang well, menurut aku agak salah. Jalan yang awalnya aku kira ini sebagai anugerah, rejeki, tapi ternyata sebuah ujian. Walaupun kalo kata orang setiap ujian itu pasti ada pelajaran yang bisa diambil setelahnya, tapi tetep aja susaah banget rasanya untuk tau apa sebenarnya pelajaran yang sedang dan akan diberikan. Tiap hari yang ada malah stress, sampai pernah kepikiran buat konsultasi ke psikolog. The lowest point in my life so far. Ujian usia 26.

Setelah isinya cuma bisa menggerutu, menyalahkan diri sendiri, dan lain sebagainya, sekarang aku udah sampai pada tahap "terserah". Rasanya udah mati rasa, males untuk berusaha memperbaiki keadaan. Karena memang untuk saat ini masih belum bisa gerak ke mana mana, jadi yasudah terima aja. And i began to see this job as a paycheck. Only paycheck. Aku kerja karena sudah dibayar, apa yang bisa dan harus dikerjakan ya dikerjain, tanpa ada niat untuk bisa berinovasi, mengembangkan diri, memperbaiki sistem, you name it. Jadi tiap hari ibarat udah kayak autopilot, yang mengerjakan hal yang relatif sama setiap harinya, sampe-sampe tanpa mikir pun bisa. Itu gak bener banget sih, bukan sesuatu yang sehat. And exactly not things I want to do. Tapi aku bisa apa?

Setelah sekian lama mencoba buat "bodo amat", aku malah seakan baru ditunjukkan pelajaran apa yang kira-kira sedang aku jalani. I began to look at my surroundings. I analyze the environment. Dan tiba-tiba semuanya kayak kebuka aja gitu. Pelajaran yang sebelumnya gak pernah aku dapet di tempat lain (well, mungkin karena cuma tempat ini yang kondisinya begini. agak aneh). Pelajaran yang nantinya bisa aku terapkan (atau tidak diulangi) di kemudian hari, kalau misal aku nanti jadi boss, misalnya.

Learn how to keep going even though you have this dis-functional boss.
Boss yang... entahlah, kerjanya udah antara ingin dan tak ingin. Yang udah masanya pensiun tapi tetep kerja jadinya gak bisa megang sama sekali (and the company has nothing to do with it). Dari awal udah gak ada gregetnya, as a manager she never really cares about her subordinates. We have this huge workloads, with limited resources to do that job, and it's worsen by the lack of system capabilities and so on. And she never tries to manage those workloads. Never asks their subordinates whether we have difficulties or not. Everyday she just sits at her desk, opens email, but we never know what she is doing. Every emails, even hard complain from pax, she never reply it. Mungkin gak dibaca juga kali.
I hate her so much. Perhaps I get too emotional sometimes, but how on earth orang yang udah gak produktif kayak gitu masih aja disuruh kerja? Manager pula! Yang setiap hari temen-temen selalu nanyain tentang pembagian kerja, atau penyelesaian case apa, atau rencana apa, pasti sama aku. Instead of her. Ya udah aja sini aku yang jadi manager sekalian! (I don't really want that position, tho. it's just sarcasm. Mending aku jadi manager di tempat lain aja yang lingkungannya agak bagusan!)

My SM and VP expect us to work better, faster. Iya kita yang dibawah sih udah cepet kerjanya, sigap tiap ada komplain atau kasus apapun. Tapi mandek di bosnya. Harusnya dia yang dimusnahkan dulu tuh baru semuanya bisa makin lancar. Gak jadi bottleneck di atas. Funny thing is, saking kita udah keselnya dan malesnya berurusan sama manager itu, karena pasti cuma jadi diribetin dan gak akan ketemu solusinya, aku sama temen-temen lain jadinya koordinasi sendiri. Gak pernah melibatkan dia. Karena percuma, gak bisa diajak kerjasama. Isinya malah dia jualan bisnisnya terus. Bales email setelah H+sekian dan nanyain apakah ini udah diproses apa belum, padahal itu case udah solved dari beberapa hari yang lalu. dan dia di-cc in loh di email. Do you even read? hellooooow!

Sampe sekarang, branch offices yang dari luar negeri juga tiap email ada kasus pasti langsung ke aku doang. Mau kasus ecek-ecek atau kasus gede sekalipun. Padahal tiap bales aku juga udah cc in si manager itu, tapi tiap mereka email selalu managernya diilangin. Usut punya usut, ternyata mereka udah pernah email ke manager itu tapi gak pernah dibales (boro, dibaca aja kagak kali) makanya udah kesel dan larinya ke aku. See? ngeselin kan orang itu. Pasca Haji bukannya membaik malah makin ngeselin.

Bayangin punya bos yang super gak fungsional kayak gitu. siapa yang gak emosi jiwa? Perasaan dari dulu bos-bos aku bener semua deh, dia doang yang gak beres. Imho, untuk menjadi bos, atau atasan atau apalah itu, dia harus udah selesai dengan dirinya dulu. Jadi abis itu dia bisa fokus untuk mengawasi anak buahnya, coordinating, dan lain sebagainya. Dan kalo menurut dunia HR yang dulu pernah aku pelajari, setiap boss atau calon boss itu harus ada fit and proper test dulu. Apakah dia layak dan mampu untuk memimpin anak buahnya? bukan cuma masalah teknis aja (itu sih wajib banget dia punya technical knowledge di atas anak buahnya), tapi juga personal skill nya. Apakah dia bisa memimpin, menginspirasi anak buahnya? apakah dia mampu untuk membagi pekerjaan secara adil kepada anak buahnya? Apakah dia bisa melihat potensi, kelebihan dan kekurangan masing-masing anak buahnya, sehingga bisa meng-assign pekerjaan sesuai dengan porsinya? Apakah dia bisa melihat potensi yang bisa dikembangkan dari tiap anak buahnya? Apakah dia siap dan sanggup untuk menjadi semacam "tameng" dan membela anak buahnya ketika mereka dihadapkan dengan workload yang berlebihan? Apakah dia bisa negotiating atas pekerjaan yang sudah overload yang tidak bisa dihandle oleh anak buahnya? Apakah dia bisa care dan melihat apakah anak buahnya itu sudah overworked, overload, demotivated, and so on?
See, it's not easy to be a leader. Dan jaman sekarang banyak banget ada leader tapi bossy banget, yang maunya cuma merintah dan tau beres, gak pernah ada feedback atau dialog sama anak buahnya. And being a leader is not about which one has the longest tenure. Not at all. Leader is about how to put the right man on the right place, in the right time.

PS. I will continue to write in this post. There are still so many things to write. Sekarang mau siap-siap kentjan dulu LOL




Monday, November 28, 2016

Pre-sleeping wishes

Weekend kemaren outing ke Jogja. Akhirnya bisa sedikit refreshing setelah udah enek banget sama hidup dan ga bisa ke mana-mana lagi. Lumayan menyenangkan, walopun ga bisa sepenuhnya "enjoy the moment and be present" karena you know, there are too much things in my head. 

Dari dulu tiap lagi main ke mana gitu selalu pengen bisa ajakin keluarga. Ke bandung, jogja, bali, etc. Kami bukan tipe keluarga yang punya budget dan jadwal pasti buat piknik sekeluarga. In fact, we never do that. Makanya dari dulu aku pengeeen banget. 

Ajakin jalan jalan, liat macem macem, beli apapun yg mereka pengen. Pengen ajakin ke borobudur, nonton sendratari ramayana, jalan jalan ke malioboro, belum pernah kesampaian. Pasti seneng banget adek adekku diajak ke malio dan bisa beli macem macem. 

Kemaren pengen beliin oleh oleh atau baju gitu aja masih mikir besok mau makan gimana kalo duit abis? I feel like a failure when i can't share my happiness to them. 

I move to my current company, salah satu alasannya juga supaya nanti gampang kalo mau ajakin keluarga liburan karena bisa dapet tiket gratis/diskon. Tapi ternyata sekarang juga susah kalo mau pake itu di rute-rute sibuk pas weekend. Jadi percuma juga punya konsesi kalo pas mau make harus selalu waiting list. 

Dan yang paling sedih adalah, i have no money left to spend for it. Sedih banget bukannya bisa memperbaiki keadaan malah makin balangsak. Bener bener ga bisa dibanyangin gimana sedihnya aku sampe nyesek sendiri setiap inget ini. 

Semoga nasib segera berubah menjadi lebih baik supaya aku bisa ajak mereka jalan jalan. 

Wednesday, November 23, 2016

Cold (play)

Hello again! Kayaknya mulai sekarang bakalan sering nulis deh buat menumpahkan uneg uneg hahaha. I used to share my everyday stories to people around me, but sometimes i'm afraid that they get bored or anything. Atau mgkn mereka sebenernya males dengernya karna kadang gak terlalu penting juga. Dan yah, mungkin males juga kali denger cerita aku yg sebagian besar isinya ngeluh semua :( 
Dan kayaknya aku perlu sedikit mengurangi ngeluh ke mas fariz. I don't want to full his head with all my problems :( biarin aja kalo aku ga bisa cerita ke dia, aku nulis di sini aja. Ga ada yg baca ini kan hehehe 

So, back to the topic. Akhir akhir ini lg hot banget tentang KONSER COLDPLAY!!! Tapi adanya kalo ASEAN cuma di Spore sama Filipina. Indonesia konon ga masuk hitungan karena piracy rate nya masih tinggi banget. Dan karena Coldplay ini amat sangat idealis, jadi mereka gamau konser di sini karena itu. Well, who knows. 

Aku pengeeeeen banget nonton. Dari dulu udah suka banget sama Coldplay. Dan dia adalah salah satu band yg aku rela beli lagunya di itunes. All albums. Tau kan ya lagu lagunya Coldplay tuh gak pasaran. Selalu authentic, deep meaning, complicated and rich music, pokoknya magical. Belum lagi live performance nya. Liat di youtube aja udh merinding, apalagi kalo liat live. 

Sampe dulu pernah bilang ke diri sendiri dan orang sekitar, that i will do anything if Coldplay happens to make a concert in Indonesia. Karena waktu itu biasanya dia konser paling deket di Aussie. Mau kerja lembur sampe pagi sampe boyokan gpp deh rela, asal bisa nonton Coldplay. 
Sampai akhirnya Coldplay beneran konser lebih deket bahkan, Spore. Tapi kondisi aku yg malah ga bisa nonton sekarang :( 

Ketika trade off nya gede banget antara bela-belain nonton atau gak usah nambahin beban dengan harga tiket yang emang lumayan itu. Gak mahal-mahal banget sih padahal. Dengan salary rate yg dulu sih masih bisa kebeli sebenernya :( 

Sediiih banget rasanya. Salah satu wish list aku banget, pas dateng malah gak iso. Padahal kapan lagi coldplay konser sedekat ini. Mungkin masih lama kali. Soalnya dia sekali abis ngeluarin album trus konser abis itu vakum lamaaa. Apalagi ini album yg paling bagus dan deketan sama album sebelumnya. Pastiii song list nya juga bagus bagus :( 

Padahal harganya ya gak mahal-mahal amat sih. Paling murah 900k an. Kalo yg mau deket banget sekitar 2.8 mio sampe 3 koma sekian lah. Sebenernya masih bisaaa kalo kondisinya masih seperti yang dulu :( 

Padahal udah nunggu nunggu banget. Tapi mungkin belum rejekinya buat nonton langsung. Kalo kata mas fariz: "kebahagiaan yang ini terlalu mahal. Masih ada banyak kebahagiaan lain." Yes, but still :( 

Kadang suka sebel aja sama kondisi sekarang. Saat semuanya ga jelas. Apapun yg aku butuh, aku pengen ini itu, ga pernah bisa kesampaian. Masih harus sabar. Entah sampe kapan. 

Morning thought 1

Sekarang kan tiap hari harus berangkat pagi. Jalan jam 6, dan jemputin yg lain dulu. Salah satunya adalah di daerah Menteng, jemput captain. Tau lah ya daerah Menteng kan elit gitu. Rumahnya gede-gede dengan halaman luas nan asri tapi temboknya tinggi banget hehe. Yang konon katanya PBB nya aja bayarnya sampe 30 juta setahun. Bisa dibayangkan berapa NJOP nya rumah gedongan itu. 

Well, bukan itu sih tujuannya haha. Karena tiap hari lewat situ, alhasil seringnya tiap lewat selain terkagum-kagum juga sering sambil berandai-andai, kapan ya bisa punya rumah kayak gini? Ya siapa sih yg gamau, ya kan? Udah rumahnya gede, halaman luas, asri, bebas banjir, udah gitu lingkungan sekitarnya juga rapi, tenang, aman, bersih. Like a dream house banget. Tapi kudu punya unlimited source of money dulu kali ye supaya bisa punya rumah macem itu wkwkwk

Jadi semakin ngelantur setelah detik itu juga introspeksi ke diri sendiri. Sekarang aja masih begini, kerjaan masih dalam tahap "entahlah", penghasilan masih cuma cukup buat makan and pay that neverending bills, yang buat kebutuhan sekunder atau rekreasi aja boro-boro. Yang sekarang masih dalam tahap i-don't-know-what-to-do-with-my-life-rightnow. Ya kalo tujuan sih ada ya, cuma masalahnyaa kondisi sekarang yg mengharuskan buat menjalani ini dengan apa adanya dulu. Ya you know what i mean lah. Jadi sementara cuma masih bisa berandai aja. Sambil terus berusaha dan berdoa tentunya, untuk memperbaiki nasib. Demi kehidupan yg lebih baik. 

Trus jadi semakin ngelantur lagi mikirin nanti gimana kalo udh berumah tangga, udah punya anak, how am i suppose to take care of them? Will i be able to raise my kids in a good way? Can i be a good role model for them? Can i be a good mom and wife? Can i be the biggest supporter for my husband? Can we make a great and happy family? 

Nah kan jadi ngelantur ke mana-mana haha. Padahal dilamar aja ya beloman LOL. Idk, mungkin di umur segini emang udah selalu kepikiran hal-hal seperti itu ya. Kayak ada dorongan batin aja gitu buat mulai memikirkan bagaimana menata hidup. Udah mulai belajar dan cari tau dari pengalaman orang, gimana cara mendidik dan membesarkan anak-anak yang benar. Terlepas dari apa yg dimaksud dengan "benar" itu juga beda-beda setiap orang. But i mean, i am very excited to learn about this all. Lagi seneng memperhatikan how people treat their family. Jadi pengen cepet praktek wkwkwk

Cuma ya itu, sekarang sepertinya masih belum mampu kali ya. Kalo dilihat dari kondisi sekarang. Semoga Allah segera memampukan, memudahkan, meridhoi semua yg ada di angan-angan ini.
Aamiin. 

Pojokan bandara, 241116. 

Sunday, August 21, 2016

People Nowadays

People nowadays. Banyak yang merasa dirinya paling bener dibandingkan orang lain. Yang bisanya cuma scrolling and judging, padahal cuma berlandaskan pengetahuan atau penge-sok tahu-an yang gak seberapa. Ngeributin hal yang gak perlu diributin dan diribetin. 
Kenapa sih harus buang-buang waktu buat mikirin kehidupan orang? Yang kenal aja nggak. Tau sejarahnya aja nggak. Padahal yang diomongin, peduli secuil ujung kuku juga nggak. Nggak capek apa? 
Akhir-akhir ini jadi ngerasa males aja bersosialisasi di dunia nyata maupun social media, karena makin ke sini isinya makin banyak orang ngejudge orang lain. And they're proud of it! Gosh! 
Bacanya aja udah eneg gak sih? Makanya mending beralih ke bacaan yang lebih bermutu yah, tiap nemu yang macem itu langsunh skip, block or unfollow kalo perlu. 

What i am saying is, people, you dont know other people. You will never know what he/she is facing right now. How their life conditions are, how their feelings are, what their problems are. Even if you think you know them well enough, you still dont know what's in their heart, do yo? So don't judge. Don't you ever. 

Mau sepinter apapun, sebijak apapun, atau se-sok pinter apapun, you have no right to judge other people. Let that task taken by our God. 

I am sick of those some people around me who always judge other persons' no matter what they do. Haters gonna hate. Indeed. Cuma pengen mengingatkan diri sendiri aja jangan sampai kayak gitu. Mendingan gak usah bersosialisasi di lingkungan yang kayak gitu kan, daripada ikutan tercemar dan ketularan?
Biarin aja mending sendirian daripada ngumpul tapi berasa paling bener dan ngomongin orang kan? Situ oke? 

Note: tulisan ini disponsori oleh kejadian di kosan yang penuh dengan mbak-mbak sok tau dan sok bener macem yg punya rumah aja. Padahal sama sama nyewa dan bayar pun. 
Gosh, hari gini susah banget ya cari tempat yang bener bener kayak rumah dan keluarga. Aku sih males punya keluarga kayak gitu. Mending sendirian aja. Untung saya introvert, bisa betah walopun sendirian juga. HAHA

Thursday, August 11, 2016

Darkness Part 2

Why can people just be professional in doing their jobs? 

Gak habis pikir kenapa ada orang yang masih bisa berlaku seenak jidatnya sendiri di lingkungan kerja. Moreover they are the bosses, the managers, the supervisors, the ones that should give example to their subordinates. 
Semakin hari semakin sering kesel sama kelakuan mereka. Gak cuma satu-dua orang dan satu-dua kali aja, tapi berkali kali! How can I respect them? 
Respect is earned, ya. I will never have respect for you if you don't deserve it at all. Bodo amat kalo aku dianggap keras kepala, ngelawan atasan, you name it! If it is wrong, I will say wrong. I won't sugarcoat it. 
Dan aku bukan tipe orang yang bisa bermanis-manis ngebaikin orang yang udah jelas jelas gak bener, gak berdedikasi, gak profesional. Just for the sake of "biar kamu disukain sama bos bos, jadi nanti karir sama bonusnya bagus."

It's bullsh*t! I don't need to be fake to achieve that all. Kalo emang mau punya karir bagus ya harus kerja yang bagus lah! Bukan dengan cara jilat kanan kiri atas bawah. Disgusting. Kayak gak punya harga diri aja. 
Saya kerja di sini buat cari uang, bukan cari muka. 

And i can't tolerate those situations. It's so disgusting. Makanya sekarang di kantor seringnya aku pasang tampang poker face, yang gak mau terlalu rempong ikutin kebiasaan mereka yang gak jelas. Well, gak semua orang di sini kayak gitu sih, but unfortunately for me, my two bosses are that bad. Even bos bagian lain pun pada kesel, and so is my VP. Dia aja udah hopeless kali gatau harus gimana lagi menangani ibu ibu rempong itu. 

Di kantor lama dulu aku sempet punya bos yang hampir mirip kayak gitu juga nasibnya. Yang lebih suka bagian seneng senengnya aja di kerjaan. Yang kadang suka lepas tangan kalo dia ngerasa males ngerjain sesuatu, atau kalo dia lagi punya project sendiri. Kadang emang ngeselin, but at the other time she shows us that she still works so damn hard. Kalo lagi on fire dia kerjanya bagus banget. Jadi aku pikir emang dia tipe orang yang kayak gitu, on-off. Walopun ngeselin tapi akhirnya kami coba buat ngertiin sifat dia yang kadang suka bosenan dan males ngerjain kerjaan perintilan. I still have respect for her. 

Nah yang bos di siniiii. Ya ampun. How to put it delicately? 
Dari level manager sampe SM kerjanya lebih sering ngobrol dan ga jelas. Kadang emang meeting dll sih tapi lebih sering ilang-ilangannya. Dateng siang tapi ga langsung kerja, ngerumpi dulu. Ngeselin gak sih? Sementara kerjaan sebenernya numpuk. 

Trus beberapa kali dikasih tugas buat bikin slide presentasi sama VP, tapi dikasihnya lewat SM. waktunya mepet cuma satu-dua hari. Waktu itu hari kamis. Kamis siang aku dipanggil ke ruang VP bareng sama SM itu, dijelasin minta dibikinin slide ini itu. Oke aku ngerti apa yang dia mau secara garis besar, tinggal nuangin di slide aja.

Abis itu ke ruangan SM, dia sok ngasih arahan gt mau gmn per slide nya. Aku ikutin aja kan. The way she told me, aku tau sih dia sebenernya ga ngerti gimana cara bikin presentasi. Cuma buka blank slide trus ketik ketik trus hapus lagi, ketik lagi. I was like, udah lah ibu, i get it. Ntar aku aja yang bikin konsep slidenya.
Dia keliatan banget panik dan nerveous nya, tapi tetep ngerasa bisa. Aku ikutin ajaa. Makin panik karena udh hampir jam makan siang tapi konsep per slide nya belum beres, trus diledekin sama manager lain. Eh dia malah bilang "tenang aja, ini nanti Aya kok yang ngerjain. Kita jadi makan di luar aja."
Tuh, gitu tuh jawabannya. 

Aku sampe relain batalin rencana makan di luar sama temen dan cuma makan di basement sendirian, cepet cepet supaya bisa cepet balik dan ngerjain tugas itu. Udah gitu mikit sendiri kan slidenya mau dibikin kayak apa.
Setelah kerja beberapa jam akhirnya aku kirim lah hasil slide itu. Aku CC in SM juga kan. Trus pulang. No feedback.

Besoknya, Jumat pagi aku ke ruangan SM nanyain ada feedback atau gak. She seemed busy with her laptop, yang aku tau itu lg BOOKING TIKET PESAWAT BUAT LIBURAN WEEKEND ITU and she told me "nanti ya, lagi sibuk nih. Ini lebih penting." *rolled my eyes*

Jumat siang aku sama SM dipanggil VP buat ada revisi slide. SM ku lagi di bawah, lagi NGURUSIN TIKET ITU. akhirnya cuma aku sama satu temen divisi lain yang ngadep dan revisi. Aku whatsap SM ku bilang dipanggil bapak, dia jawabnya iya nanti ya. Tapi sampe meeting kelar dia gak dateng juga. 
Yaudah deh daripada lama nungguin dia aku langsung kerjain aja kolaborasi sama temen dari tim sebelah itu. Dan pas dia balik, boro boro basa basi nanyain gimana tadi hasil meetingnya, apa aja yang diubah? Nothing! Dia jalan santai diem aja gitu liat aku lg ngotak atik slide. Astaghfirullah.

Pas udah selesai kan mau aku kirim ulang ke VP, aku tanya SM ku mau dicek dulu gak, karena angkanya beberapa ada yang aku gak ngerti. Siapa tau dia punya approach lain untuk angkanya or whatsoever lah, wewenang dia. Dia bilang "gak usah, langsung kirim aja". Yaudah dong aku kirim dan CC in dia. Trus pulang deh. Sepanjang jalan pulamg rasanya hati gak tenang banget karena gak PD dengan angkanya, apalagi ini slide buat analyst meeting. Masa gak direview sama sekali sih.

Besoknya, Sabtu pagi aku lagi siap siap pindahan kosan. Tiba tiba ditelp VP minta direvisiin beberapa slide. Aku bilang nanti agak sorean karena lg mau pindahan, eh dia bilang direkturnya minta dikirim pagi ini juga. Dia jg agak kesel kenapa ada angka yang gak bener. Akhirnya aku buka laptop dan benerin slide itu, sambil di whatsap terus kapan bisa kirim. Hadeh. Setelah 20 menit langsung aku kirim. Dan abis itu lgsg diforward ke sekdir. Gatau direview lagi atau gak. Tau kan kenapa dia telp nya ke aku bukan ke SM dulu? Iya lah SM lg seneng seneng di Jogja! 

Senin setelahnya kantor geger karna ada kesalahan sistem apa itu trus angka yg kemaren di slide salah (sebelum aku revisi slide itu lgsg dikirim ke direktur. Pas udh sampe direktur baru ketemu kalo salah dan dibalikin lagi). Pas pagi gempar ada serangan fajar itu SM ku dateng dateng bilang ke yang lain "iya gue juga kena tuh kemaren gara gara angkanya Aya salah".
Rasanya pengen jambak banget gak sih? Ya situ lah yg harusnya review angkanya. Apa gunanya coba ada next higher? Dari awal jg aku udh bilang kalo aku ga ngerti sama data itu, apalagi ini bikin forecast. At least harus tau dulu kan tren-tren sebelumnya. Aku juga ga PD sama angkanya makanya minta review, minta feedback. Tapi gak pernah digubris. Sekarang pas ada masalah aja langsung aku yang kena. 
Ya Allaaaah rasanya tuh marah tingkat internasional. Sejak saat itu aku udah ilang sama sekali respect ke dia. Really not worth my respect secuil pun. 

Karena itupun sebenernya bukan kerjaan aku, tapi dimintain tolong bantuin kerjaan yg urgent karena yg biasanya ngerjain lagi cuti. Udah dimintain tolong, i did it with all that i have, masih digituin juga........



Friday, July 15, 2016

Darkness part 1

I call it the darkest point in my life, so far. This is the most difficult part of being 26 years old woman, in the age that we are considered to be grown up and mature person, so the problems we face are so fvckin serious day by day. 
Where should i begin?

Actually i don't want to write about it here, because i don't want my future-self reads about this darkest point. Because i know it will only makes me sad, angry, stressed, or even depressed whenever i remember it. Even though if it's already so many years passed. I can guarantee. 

Well, this torture started some three months ago. From the thing that at first i thought will be one of my glorious time, when i prayed really hard for it at the time, and i poured all my efforts and energy to achieve it. But at the end of the day, this is me digging my own grave. 

Everything is never as it seems, indeed. I know i should be grateful for everything i have right now, the goods and the bads. But as an ordinary human, who has expectations, i really can't stand to it anymore. Everything happens in my life is nothing right. Every move i make, useless. 

That moment when you realised that you have made the wrong decision, the worst decision in your life. Then i trapped in this lousy jobs that makes me hate evrything about it, every single second. I've tried to look for any positive side about it but nothing. Every day it becomes worsen instead. I don't know what kind of life i'm living amymore. When everything just depresses you, turns you to be the person you are not. What the hell is this? 

And when finally you have that wild card, that one chance to escape from all this mess, but then boom! YOU CAN'T GO BECAUSE OF THAT FVCKIN PENALTY. Can i ask what you have done to me, so i have to pay you? I work to earn money, not pay that company! 

If, if only i had that much money i would have left this place ASAP, from the very first day of work. Really. But that's the downside of being a person from less-fortunate condition that you can't always have the resources to support you plans and goals. I'm on my way to improve my condition and family, but please give me chance and strength and easiness to do all the work that i have to do! 

I really want to have a meaningful job, it's okay for me to work my ass off of it. I really want to have broader knowledge and education, i really wanna see the world in a broader view. Would you please just help me? Please? 

Everybody says that there must be a very good reason behind this all. But what? When everyday your life is sucker. I don't believe it anymore. I cant believe. I'm tired, like really tired. Can i just disappear from this all? 

And now i dont know to continue my life. How to keep me sane and keep my spirit. I think i already lose my true self. Im a robot now, a robot that only do its tasks and dont know how to live. Im dead inside. 

I still wanna grow. I still wanna live. But they just dont understand. They cant understand. I cant trust anybody anymore. I cant trust this life anymore. Eventhough if im still alive tomorrow, i dont know what's my life is for, anymore. 

Congratulations for making me such a desperate and irresponsible grown-up person.


Saturday, November 21, 2015

The Untouchable Light

So this is my story. I’ve been thingking about this verse – the title- even since i was in high school. I was always fascinated by the word of “light”, or meaning “cahaya”. It’s not the only that the word correlates with ne of the special things in my life, but also because of the idea and the meaning of the word itself. Light is something that we, human, always need. I can’t imagine how life will be without light. Can we? Dark. Cold. Gloomy. So i like the idea of the light’s existance, literally or methaporically. But the i realized one thing that the light is something we cannot touch. No matter how hard we try to catch it. And it’s gonna be the longest post i write, i guess.

Why do i love the word “light”? because it reminds me of one of my old friend, my special friend, to be honest. His name is Cahyo, which if you know it is the Javenese word of “cahaya” or “light”. I don’t know whether his parents gave his name Cahyo because of it, haha. But i think the wish is that he may will be the light of his love ones. 

So why do i write about him? I’m gonna tell you a looong long story about it. Story that already be part of me in the few years, in almost all stages of my life. I’d like to say, maybe around 10 years. Until now. 

I met and knew him since we were in elementary school. We didn’t get along that time, never got a good chance to have a proper friend-interaction. Until oneday we attended the sama school in junior high, and i moved to my new house that is near his, so we are neighbours since then. But still, we never happened to have proper interactions because he was always outside home, hung out his his friends. You know, just like what schoolboys always do. At that time, our parents started to become closer and closer to each other. Me and family often went to his house just to watch TV (that hard time, when my house had electricity problem). So i almost every night came to his house and chatted with his other family members, while me and him just smiled and did a small talk, awkwardly. I didn’t really comfortable with the situation.

I should tell you that Cahyo was... i don’t know how to put it delicately, but it seemed like he had this special quality, or i may say ‘charm’ that almost every girl i know was fall on his feet. You name it. Long story short, they knew that i was ‘close’ to him, or at least closer to him, that they made me to be their cupid, to send him their messages, to talk to him by phone. Hahahaha to do some things that just made me laugh to see. Well, as a good friend, i did it for them.

So many times i be their letter sender, picked up the phone to talk to him, eventhough at the end my friend was too shy to talk, so finally that was me that chatted with him. Dammit! i believe it was a thing like “cupid-curse” (what the hell is that?) why did i have to fall for him too? Dammit again! Could it be worse if my friends knew that i also liked him, eventually, so i tried so hard not to thinking about him, to get rid of him. But that was hard, because as i told you before, i was his schoolmate and we were also neighbours, that we could always meet at the corner of the streets.

Jadi aku udah mulai suka sama Cahyo sejak sekitar kelas 2 SMP. Setelah yang sering jadi makcomblang itu. huh. Tiap hari ketemu di sekolah, di jalan deket rumah, tapi cuek-cuekan haha. Belum lagi kalo temen-temen dateng dan nanyain tentang Cahyo. Sampe bingung mau jawab apa, karna kalopun ketemu juga diem-dieman, mana aku tau kabar dia kayak gimana. Baik-baik aja kali. Keliatannya. And you know, it was so painful to see person you like just stare at you like he stares at strangers, while you know that you like him like crazy, when at the same time your friends always talk and ask about him, about the person taht at last stel your attention. Blah! Ngapain sih ayaaaaaa??

Untungnya, pas SMA kita gak satu sekolah. Jadi waktu temenku (MASIH) tanya-tanya tentang dia, aku punya alasan buat jawab ‘gak tau’, so i didn’t have to know everything about him anymore. So i might can forget him. Karna lama-lama aku kesel juga sama temen-temenku yang selalu tanya tentang dia ke aku. Emang aku siapanya dia? I didn’t even know anything about him that much. 

Jadinya sempet mikir, mereka itu temenan sama aku karena wmang mau maen sama aku atau Cuma gara-gara mau tau tnetang Cahyo aja? I really didn’t like that. Rasanya kayak gak murni niatan bertemannya. Wallahu a’lam.

Daripada kesel let’s go back and focus on my own story aja lah ya. Akhirnya aku gak sanggup buat lama-lama nyimpen perasaan suka ini dari dia. Kalo ditotal waktu itu udah sekitar 2 atau 3 tahun gitu jadi secret admirer dia. Kalau kata om Duta mah: Pemuja Rahasia. Hahaha. Bayangin aja, sebagai tetangga dulu kita sering ada acara bareng sama dia. Yang dulu sempet ke Nusakambangan bareng, and i saw him ride his motorcycle, and i thought that he was as awsome as Valentino Rossi! Sumpah, aku sampe pernah kpikiran kayak gitu. Gila ya? Dan ternyata sampe sekarang dia juga ngefans sama Rossi. Wih dia pasti bakal GR banget tuh kalo tau dulu sempet disama-samain kayak idolanya haha. Trus ada lagi, waktu dulu ada acara piknik bareng satu RT, yang pas di bis dia tau-tau ngajakin aku foto bareng sampe kudu naik-naik berdiri di kursi bis! Hahhaa. Dan abis itu pas kita lagi di Goa apaa gitu lupa, dia bikinin aku gantungan kunci yang ada tulisan “Gayatri”. Kok so sweet sih? I couldn’t believe that. Belum lagi pas acara syukuran 17an, dan di acara itu kita makan bareng, ngantri makan bareng sambil dikit-dikit ngobrol. Little things, i know, but for me yang waktu itu emang lagi suka sama dia ya udah bisa bikin ga bisa tidur aja saking senengnya hehehe.

Dulu pas SMP SMA kan masa-masa remaja labil ya, yang lagi demen banget dengerin radio, request dan dengerin lagu-lagu galau yang sesuai sama isi hati. Dan dulu sumber galauku ya si Cahyo wkwk. Jadilah hampir semua lagu jaman dulu pasti ada yang dikait-kaitin sama dia. Oh iya sama aku juga sempet bikin dua lagu gara- gara kepikiran dia. Itu aku bikin pas lagi di acara 17an itu, waktu aku tiba-tiba sepanjang acara itu selalu sama dia. Yang biasanya aku sama sahabatku nyebutnya: Hari Peuh Cinta, alias HPC. Kita dulu bikin istilah itu, tapi kalo buat aku HPC menas: Hari Penuh Cahyo. Hahahahhahahahha 

Inget dulu pas saking kangennya, saking pengennya bisa ngobrol sama dia, aku sampe sms ke dia dan sok-sokan salah kirim sms dan pake nama lain hahaha. (absurd part of teenage-me). Di situlah pertama kali aku pake nama Aya. Tahun 2007 kalo gak salah dulu tuh. And surprisingly he said that his name is Ayo. Jadilah kita semacam anak kembar, Aya & Ayo. Hahaha. Untungnya juga abis aku sok salah kirim sms itu, dia yang ngajak kenalan duluan. Biasalah, kelakuan anak SMA jaman dulu. Jadilah kita ‘kenal’ dan smsan as Aya and Ayo. Ngobrol seru, ngalor ngidul, sampe akhirnya kita saling curhat. Dia curhat tentang cewek yang... well, aku juga udah tau sih dia siapa haha. Dan aku curhat tentang dia, ke dia. Aku cerita kalo aku suka sama orang, tapi temenku juga banyak yang suka sama dia. Aku bingung harus gimana, aku gamau nyakitin temenku, tapi aku juga ga bisa bohongin perasaan aku sendiri. (permasalahan klise anak remaja banget kan? Udah macem cerita FTV. I, ever that absurd haha). Aku cerita ini ke dia sebenernya juga buat cari tau gimana pendapat dia tentang ini. Karna aku emang beneran gatau harus berbuat apa. Sampe akhirnya dia malah kasih saran untuk bilang aja ke orang itu kalo aku suka. Gausah terlalu mikirin gimana temenku. Dalam hal kayak gini, kadang kita harus egois-egoisan. Dia juga bilang, jangan takut cowo itu bakal marah sama aku setelah aku bilang jujur. Kalo dia cowo baik-baik pasti dia bakal ngerti. Baik banget ya, dia? Pemikirannya dewasa banget, aku aja ga kepikiran ke arah itu. 

Sampe suatu hari aku beranikan diri buat melakukan satu hal besar, ternekat, dan terberani di hidupku saat itu. i confessed my feelings to him, directly. Aku udah bodo amat ga mau mikitin nanti gimana pendapat dia tentang ini. Aku inget banget dulu tanggal 7 Februari 2007, aku dateng ke rumah dia, bilang mau ngomong sesuatu. Aku bilang kalo selama ini yang namanya Aya itu aku, dan yang selama ini aku curhatin ke dia ya tentang dia. Dan aku cerita semuanya ke dia tentang betapa aku suka sama dia, sayang sama dia, walaupun aku tau paling dia biasa aja ke aku. Aku gak ngarepin dia balas perasaanku, aku Cuma bilang ini supaya aku bisa lega, gak mendem perasaan sendiri doang. And surprisingly dia gak marah, dia malah ngerasa ga enak ati banget karena selama ini ga sadar kalo aku suka sama dia. 

Dia malah bilang “kenapa harus kamu sih yang suka sama aku? Kamu tuh udah aku anggap kayak sodaraku, kayak keluargaku sendiri.” Honestly, i didn’t know how to respond, karna aku Cuma pengen jujur aja ke dia. Akhirnya yah udah sama-sama lega, udah saling tau gimana kondisi masing-masing, dan hubungan kita jadi semakin baik. At least setelah itu pas ketemu di jalan kita gak cuek-cuekan lagi. Itu aja udah cukup kok.

Sampe suatu hari aku denger kalo dia punya pacar. Kayanya masih di bulan Februari itu deh. Jadi pas aku confess ke dia itu dia udah lagi deket sama cewek itu kali ya. Namanya Rizkha, temen sekolahnya. I didn’t know her, and no need to. Cantik. Somehow he knew how to choose a girl to date with, haha. I didn’t angry. Sad? Emm a little bit, perhaps. But the rest, i was happy for him. I was happy that finally he found someone to love to, someone who can take care of him. Call it cliche, but that was what i really feel at the time. When the person you love is happy, what else matter?

Sejak dia udah punya cewe itu ya jadi makin jarang ketemu. Udah sama-sama sibuk sama urusan masing-masing juga. Aku sempet beberapa kali liat dia sama cewenya di jalan. He really loved her. He held her hand while riding his motorcycle, the laughed. Even the cupid’s also ency, hahaha. (ini udah beneran kayak di FTV deh. But it’s true story). He really showed that he really love her. In twitter, FB, all his socmed accounts. From there i knoew that when he loves, he loves deeply. Rizkha was very lucky to have that kind of loving lover. Somehow i envied her.

Singkat cerita aku juga udaj mulai sibuk kuliah (udah sampe kuliah, waktu itu), jarang pulang, lose contact sama sama dia. Sampai pas hampir lulus. Pas kuliah kan juga sempet deket dan pacaran sama orang lain, jadi semua pikiran tentang Cahyo sempet menghilang. Sampe pas hampir lulus, i heard the news. I heard he broke up with her. Kaget, karna udah lama banget ga denger kabar tentang mereka. But i was like.. yaudah mau gimana. Mau support Cahyo juga udah ga terlalu deket lagi sekarang. Belum tentu juga dia butuh disupport kan? Jadi wait and see aja. Sampe aku denger cerita temen-temen kalo dia sampe udah frustasi banget. I didn’t know exactly why they broke up, Cuma denger sepintas aja kata temen-temenku, yang katanya dia diselingkuhin lah, ini lah, itu lah. But that’s none of my business, right? i didn’t wanna judge because i knew nothing about it. 

Pas kapan gitu akhirnya kita sempet ketemu dan cerita kalo dia masih sedih banget dan belum bisa move on. I was really sad to hear that. Aku juga sedih liat dia sampe segitu sedihnya. Padahal dia tuh orangnya rame banget, pecicilan banget, gak nyangka aja bisa segitu rapuhnya pasca insiden putus cinta itu. as a good friend ya aku paling Cuma bisa bilang sabar, udah move on aja. Gatau juga sih harus ngomong apa, udah buntu liat dia sedih gitu. Jadi ya sewajarya ajalah. Lagian temen dia kan banyak, pergaulannya luas. Gampanglah kalo nanti mau cari penggantinya. Eventhough i know it’s not that easy sih. 

Time flies, life goes on, dan aku sempet denger beberapa kali kalo dia sempet deket sama beberapa cewek. Suka heran deh, kok aku masih sering denger kabar aja apapun tentang dia, padahal gak nyari tau juga. Pasti adaaa aja yang ngasih tau. Heran. Well, tapi kan aku orangnya gak kepoan, jadi yaudah aku ga pernah bener-bener pengen tau dia deket sama siapa dan gimana. Yang penting dia happy, udah cukup. Di manapun dan sama siapapun. Tapi anehnya dia masih sering keliatan galau, ngepost hal-hal galau. Mungkin masih belum bisa move on kali ya. Padahal mungkin cewenya –eh, mantannya- udah ke mana tau. Ah, sekali lagi itu bukan urusan saya. Life goes on and on. Sempet tau-tau kita sering komunikasi lagi via twitter, bbm, whatsap, tapi ya Cuma gitu-gitu doang. I have my own life juga.

Setelah lama banget ga ada kabar, tau-tau aku tau sesuatu. Dia jadian sama salah satu temen aku, yang dulu sempet sering minta tolong ke aku buat telponin dia. Namanya Yani. I knoew it from her bbm display picture. I saw them at those pic together. Awalnya aku kaget pas liat, dan jadi curiga pasti ada apa-apa di antara mereka. Tapi berhubung aku gak kepo, aku masih diem aja, gak komentar apa-apa. Sorry, i didn’t feel like i need to, hehe. Sampe akhirnya Yani cerita deh ke aku kalo mereka udah jadian. Well, i was happy. And surpised. Wondenring. Sad? I didn’t think so. Mad? Oh, please. Dua orang terdekat aku, sekarang udah find each other, akhirnya bisa jadian juga setelah sekian lama kepisah dan gak berkabar. I couldn’t be happier, could I? To see you bestfriends finally found her and his love. I should be happy. Which i was. Aku sampe mikir, ya ampun, mungkin ini yang dinamakan ‘destiny’. Kita ga pernah tau apa rencana Tuhan. Bahkan yang udah lama terpisahkan pun bisa kembali dipertemukan. Wasn’t that amazing? Walaupun entah kenapa ada satu bagian di hati aku yang agak sakit liatnya. Gatau kenapa. Maybe i was just envy with their love story.

Dan aku juga kesel sama si Cahyo gara-gara dia ga pernah cerita tentang ini. Padahal ini menyangkut temen aku juga. Pas lagi galau aja, selalu cerita. Sekarang giliran lagi seneng malah diem aja. Kan kesel. I was just wondering how could it be, because it was quite surprising for me. Tapi yaudahlah ya, bukan urusan saya. Aku juga males tanya-tanya haha. Nah saking girangnya aku sampe post foto mereka di di Path, aku tag Cahyo, sambil ngegodain dia. Hahaha jahil, ya. Abis aku ga punya pin bbm atau whatsap nya siih jadi ga bisa godain langsung. Eh sama dia gak direspon doooong. Lagi kenapa sih ni orang?

Abis itu selang beberapa hari, temen kita, Giwang, bilang ke aku kalo Cahyo ga suka aku ngepost foto mereka di Path itu. i was like, why?? Toh itu pacarnya kan, kenapa gitu malah marah? Lagian paling siapa sih yang liat kalo Cuma di Path aku doang, secara mutual friendnya ya paling itu-itu doang. I smell something wrong there, Cuma males tanya aja. Teteup.

And after that i often saw Yani’s status update on bbm that kinda sad, galau, angry, things like that. I didn’t know what was happening between them, and i didn’t ask because i didn’t feel like i really need to know (Gosh, am i that ignorant??), jadi ya Cuma nonton. Makin lama kok makin parah. Aku juga ga berani tanya ke Yani. Apalagi ke Cahyo, nanti dikira ikut campur urusan orang kan. Sampe akhirnya Giwang ceritain semua curhatannya Cahyo ke dia. I didn’t know why she told me all that story, i mean, i never asked her to tell me anything she knew about them. Tapi Giwang gitu loh, apa sih yang gak dia ceritain ke aku? At last i knew that their relationship was not good. Emm i forgot the detalis, i never knew, tho. Yang jelas intinya –sepemahaman aku ya- mereka berakhir dengan tidak baik. I knew nothing about it, tapi aku sampe ngerasa kesel aja kok Cahyo bisa kayak gitu sih, abandoned her with no explanation at all. Walopun aku pada dasarnya ga pernah mau ikut campur, tapi aku juga kesel dan sempet protes ke dia juga. Aku ga suka cara dia memperlakukan Yani kayak gitu. Gak gentle banget! Ya kalo ada masalah apa ya diomongin baik-baik, dicari jalan keluarnya, apapun itu. apalagi ini menyangkut temen aku juga, makin kesel kan aku. Then he explained to me his reason why. Ya aku sih Cuma denger aja, dari sisi dia. But i never knew how was from Yani’s side. Tapi sekali lagi, berhubung aku males tanya-tanya dan ga sempet juga, akhirnya aku diem aja. Dan dianya juga gak cerita, so i thought it was better not to know anything about itu anymore.

Beberapa bulan setelah itu, aku mulai komunikasi lagi sama Cahyo via bbm. Yah anggep aja temen lama yang akhirnya muncul lagi, komunikasi lagi. As simple as that. I wasn’t sure about my feelings to him at the time. Udah lama banget juga. Aku sih yaudah anggep aja dia kayak temen/sodara, like what he told me years ago. Dan yang namanya udah kenal lama dari kecil, walopun udah jarang komunikasi, tapi pas reconnected again pasti ya langsung nyambung. Langsung nyaman. Walopun masih tetep pada koridor yang benar, means kita gak pernah bahas hal-hal yang sifatnya privacy, kecuali kita yang emang curhat duluan.

Yang bikin kagetnya lagi adalah, waktu Giwang cerita kalo Cahyo sempet bilang ke dia pengen nyoba jalanin sama aku. I was like, what? Mau coba? Emangnya aku perempuan macem apa yang bisa dicoba-coba? And yes, Giwang didn’t approve that. Apalagi setelah insiden sama Yani itu, mana boleh dia langsung mau hit on me. Aku juga males kali. Masih inget banget gimana perlakuan dia ke Yani dulu. But as friends, kita tetep komunikasi, walopun kadang dia sempet keliatan banget flirtingnya ke aku tapi aku cuekin, hahahhaa.

Waktu itu pernah pas aku lagi cuti pulang, selama tiga hari di rumah tuh aku selalu sama dia. Pergi-pergi sama dia, ke pantai sama dia. Yah abis ga ada lagi sih yang bisa diajak main, hahaha. Giwang kerjanya lagi gak libur, temen-temen lain juga banyak yang di luar kota. Karna yang available Cuma Cahyo, ya why not? Oh iya, sebelum itu, pas kita bbm an kan sering bahas tentang bola. Gak Cuma bola doang deng, banyak. Ada tentang motoGP, musik, dan lain sebagainya. pokoknya random deh kalo ngobrol sama dia. Akhirnya aku tau kalo dia juga suka Chelsea! Funny thing is, aku juga suka Chelsea. Udah sejak lama sih, walopun gak terlalu ngikutin juga. Itu gara-gara gebetan aku dulu juga suka Chelsea jadi aku ikut-ikutan sering liat dan suka hahaha. Silly. Singkatnya, pas pulang itu rencana aku mau beliin dia kado ulang tahun, karna waktu itu dia abis ulang tahun. Udah lewat belasan hari sih, tapi at least masih sama-sama bulan Mei lah haha. Akhirnya aku beliin dia jaket Chelsea, setelah muter-muter ke beberapa tempat akhirnya nemu juga. Relieved. Kenapa ya dulu aku pengen beliin dia? Gatau deh, haha. Bahkan waktu temen aku tanya itu buat siapa? Buat pacar? Bukan. Ya anggep aja buat sahabat, buat sodara? Gapapa kan? Aku beneran gatau mau buat niatan apa sih, selain buat kado ulang tahun. Dan karna emang dia suka banget sama Chelsea aja, jadi yaudah aku randome beli. Sekalian aku juga beli t-shirt Chelsea buat aku juga.

Nah waktu di rumah itu, kita main ke pantai. Biasa, aku selalu kangen pantai dan sunsetnya. Pas di pantai itu kita ngobrol, dan waktu aku kasih kado itu dan dia tau kalo itu jaket Chelsea, dia girang banget! Happy like a little kid! Aku legaaa banget dia suka. Bener-bener seneng liat dia ketawa lepas dan girang kayak gitu. Sampe dia cobain jaketnya, tapi trus dilipet dan dimasukin lagi karna katanya sayang, nanti aja di rumah dia buka lagi. Mukanya tuh, seneng banget. Dan aku jauh lebih seneng liat dia seneng kayak gitu. Walopun awalnya aku bingung pas mau ambil ukuran apa, secara gatau dia badannya segede apa sekarang, setinggi apa sekarang haha. But deep down my heart, i relieved. 

Malemnya kita main lagi, dan dia pake jaketnya. Besokannya juga. Dia nemenin aku seharian hunting foto sunrise and sunset. Aku seneeng banget project sunrise and sunset cathcing ku berhasil. Dapet semua foto-foto kerennya seperti yang aku pengen. Dan yang lebih senengnya lagi, aku gak sendirian haha. Seneng banget dia mau nemenin aku hunting tempat, dari pagi buta, dari gelap sampe terang, dari terang sampe gelap lagi. I am very grateful for that.

Aku juga selalu sempetin mampir ke rumah neneknya kan, yang udah aku anggep kayak nenekku sendiri juga. Waktu itu juga masih ada almarhum kakek. Yaudah aku mampir, aku ngobrol sama nenek sama tantenya juga. Hal yang aku seneng pas mampir ke sana adalah, aku bisa dapet wejangan macem-macem. Rasanya tuh lebih mengena kalo yang ngasih nasehat itu orang yang jauh lebih tua. Iya gak sih? Seneng aja abis itu didoain macem-macem. Doa orang tua kan manjur ya? But aside from all this, aku emang sayang sama mereka udah kayak keluargaku sendiri, dari kecil. Jadi dari dulu sampe seterusnya ya aku bakal selalu sempatin buat nengok mereka kalo pas lagi pulang. Deketan ini rumahnya. 

Balik ke Cahyo lagi. Sejaki itu kita jadi makin sering komunikasi, sering ngobrol. Dia makin sering flirting. Lama-lama yaa aku jadi kebawa juga. Karna emang udah nyaman, yaudah mari kita lihat ke mana ini akan membawaku. Suatu saat di bbm dia pernah bilang, kalo nanti kalo dia udah punya kerjaan yang bagus dia mau minta aku ke ibuku. Gatau ya becanda atau beneran haha. Aku sih dulu Cuma becandain aja, bilang emangnya berani? Kata dia, berani lah, kan aku laki-laki. Well, oh boy you made me speechless, you made me speechless, so speechless.....

Ada beberapa kali deh dia bilang yang hampir-hampir kayak gitu, aku gatau beneran atau gak. Tapi aku sih nganggepnya serius ya, secara siapa sih yang berani ngomong masalah kayak gitu kalo gak serius? So i thought it was serious. Soalnya abis itu juga kita sempet bbm an sampai pagi, dan kita kayak semacam confess our feelings gitu. Sama-sama ngaku kalo kita saling nyaman satu sama lain. Dia bilang dia bego banget selama ini nyari ke sana ke mari ga nemu-nemu, tapi di deket dia tuh justru ada aku, yang eventually bisa nyaman sama dia. Yah more or less kayak gitu deh. Aku juga ngerasain kenyamanan yang sama sih, tapi aku tanya, ada perasaaan suka atau sayang ke aku atau gak? Aku gamau dong nanti end up nya sama kayak ceritanya Yani, yang ternyata Cahyo ga bisa suka sama dia walopun udah dia coba. He said... kalo sayang mungkin belum. Tapi yang namanya sayang kan bisa ditumbuhkan.. aku gatau ya harus respon apa. Satu hal yang melintas di kepala aku waktu itu: ok kalo gitu aku belum bisa sepenuhnya yakin sama dia.

Aku bilang kalo aku masih ragu sama dia, belum lagi setelah kejadian dulu dia sama Yani. Bisa jadi kan itu semua bakal kejadian lagi ke aku? Dan dia bilang dia ngerti kalo aku masih belum yakin, dan dia intinya kayak mau coba buat jalanin sambil jalan. Oh iya lupa bilang, sebelumnya dia pernah curhat kalo dia lagi bingung sama satu hal. Dia ngerasa nyaman sama orang, tapi dia gamau bikin orang itu nunggu kelamaan, karena dia ga bisa kalo harus nikah dalam waktu dekat. I was like, loh emang dia minta dinikahin dalam waktu dekat? He said, ya nggak sih, Cuma aku sama dia tuh seumuran, jadi ga enak kan kalo aku bikin dia jadi nunggu aku yang belum mapan-mapan sampe sekarang. Kalo cowo sih gapapa ntar-ntaran aja, kalo cewe kan kasian.. i nodded. Then i said, ya kalo menurutku, kamu bilang aja sama cewe itu, jujur tentang kondisimu ke dia kayak apa. kalo dia juga sayang sama kamu ya dia pasti masih mau nunggu kamu, support kamu. Dan kalo emang kamu beneran serius sama dia, justru itu bisa dijadiin motivasi buat kamu cepet-cepet siap.

Daaaan ternyata, tau gak? Pas malem –atau pagi- kita confess itu, dia baru bilang kalo cewe yang dia maksud itu aku. Ya emang sih kita seumuran. Aku langsung speechless lagiiii. Ini berasa kayak dejavu gak sih? Dulu pas 2007, aku curhat tentang dia, ke dia. Trus sekarang, 2015, dia curhat tentang aku, ke aku. It was like a whoa! Aku bener-bener ga pernah kepikir kalo yang dia maksud itu aku. Kirain dia lagi deket sama siapaa gitu. Ternyata.. 

Yaudah akhirnya aku bilang kalo aku bersedia buat nungguin dia, kita sama-sama berjuang di jalan kita masing-masing, sampe akhirnya nanti sama-sama siap. Toh aku juga masih banyak banget PR, kataku. Intinya gitu deh. Dan pagi itu rasanya semuanya udah plong, kita udah saling tau gimana kondisi kita, keinginan kita. Tinggal ngejalanin aja sama-sama. Walaupun masih belum ada kata komitmen secara eksplisit, apalagi aku juga masih belum bisa yakin sepenuhnya dan sayang sepenuhnya lagi sama dia, tapi aku bakal coba buat selalu support dia secara langsung, mulai detik ini. 

Waktu itu juga kondisi dia lagi banyak masalah. Dia sering cerita tentang Ayahnya yang masih sakit, Ibunya yang kadang juga ikutan sakit, sampe tentang adeknya. Well, we face our own struggles, but we tried to support each other. He was there when i lost my fish pet, Ucup. Waktu aku mewek-mewek sendiri, dia bbm aku terus. He was there when i was sad, and sent me some voice notes. Some just his voice cheered me up, sometimes he sang a song for me. Hahaha. Funny.

Sampe akhirnya kita udah berasa saling kangen satu sama lain tapi harus sabar buat ketemu sampe pas sama-sama pulang nanti. Sampe counting days kapan bisa ketemu lagi, yang masih lama banget haha. Akhirnya pas sahabatku, Uzi nikah, aku pulang, dan dia juga pulang dari Cikampek. Sepanjang jalan kita bbm an, tukar kabar, ngobrol. Aku udah kebayang besok abis kondangan Uzi aku mau maen sama dia, kayak biasa, liat sunset. Tapi dia bilang kalo dia udah ditag temen-temen SMA nya buat maen bareng. Yaudah gapapa, toh dia udah lama banget terpencil di Cikampek dan pasti juga kangen banget sama temen-temennya. 

Pas di acara nikahan Uzi, Giwang juga dateng. Dia bbm aku, suruh liat display picture bbm nya Cahyo. Aku heran, emang kenapa? Aku udah lama sih ga megang hp. Trus aku liat, di fotonya dia lagi sama temen-temen SMA nya, just like he said before. Tapi.... cewe semua. He was the only guy. In fact, sejak kita sama-sama sampe rumah dia juga ga bbm aku. Aku juga nggak bbm dia. Trus sekarang tau-tau aku liat dia pergi sama cewe-cewe. Berhak marah gak sih? Nggak deh ya kayaknya, secara pacar juga bukan. Boleh sedih gak? Mewek? Tapi lagi acara nikahan orang, di mana aku juga jadi bridesmaid, yang mana seharusnya happy di situ. Bener-bener deh itu situasi yang sulit banget, aku harus pasang tampang happy dan seperti tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hati rasanya pengen teriak nangis mewek, apapun itu.

Sampe malempun Cahyo gak bbm aku. Tumben. Padahal seharian itu dia udah beberapa kali ganti display picture. Aku juga males bbm dia duluan, kan dia lagi seneng-seneng sama temennya. Nanti ganggu lagi. Siapa gue? Baru deh tengah malem gitu pas aku udah tidur dia bbm, nanyain besok pagi mau jadi liat sunrise gak? Well, dia emang udah janji sih kalo mau ngajakin aku liat sunrise. Aku jawab pas baru bangun, ok, emang kamu bisa? Kalo masih ngantuk mending gausah. Kata dia, gapapa. Tapi, gak muncul-muncul! Udah ditungguin dari abis subuh. Biasanya dia cepet kalo bilang mau dateng, secara paling dari rumahnya ke sini ga nyampe 5 menit, orang Cuma beda 4 gang doang. Aku tungguin sampe matahari udah keburu terbit duluan kali. Baru deh dia dateng, dengan muka kecut. Bener-bener gak sesuai sama yang aku bayangin dulu deh... rencana ketemuannya..

Di pantai juga diem-dieman. Dia maen hp, aku dicuekin. Ngobrol juga kaku. Jadi heran, ini kenapa sih? Sehari sebelumnya aja masih biasa aja, masih seru. Apa jadi kaku pas ketemu karna kita udah pernah bahas masalah serius dulu itu ya? Ih tapi ngapain, orang udah sama-sama tau juga. Saking keselnya liat dia bbm an sendiri mulu, akhirnya aku tinggal dia buat hunting foto sendirian. Biarin dia ngopi sama bbman entah sama siapa. Abis aku selesai hunting foto, dia masih aja bbm an entah sama siapa. Akhirnya aku ajak pulang aja. Pas mau bayar, dia sempet nunjukkin bbm nya, ada berita tentang motoGP gitu. Dia kasih hp nya, trus pergi bayar makanan. Pas banget aku dari tadi kepo kan dia bbm an sama siapa, langsung aku liat. Ternyata dia bbm an sama cewe, dan ngomongin tentang cewe lain. ok. Fine. Now i know where i stand. Mungkin ini cara Allah ngasih tau ke aku, dengan tanpa intensi apa-apa dia ngasihin hp nya ke aku, jadi aku bisa tau semuanya. Aku Cuma diem doang. Ga berhak buat marah, dan ga ada gunanya juga marah-marah, i know. 

Pas pulang, dia nawarin buat mampir ke rumah neneknya. Aku mau. Yaudah aku ngobrol sama neneknya, sama tantenya. Dan tumbennya di situ aku digodain sama nenek n tante, dibilang disuruh sama Cahyo aja, toh sama-sama single. Aku kaget, dan gatau gimana reaksi Cahyo waktu itu. aku Cuma ketawa-ketawa aja dibilang kayak gitu. Ya kalo kondisinya pas aku sama Cahyo lagi baik-baik aja sih gapapa, tapi ini kondisinya pas aku baru tau kalo aku bahkan ga ada di pikiran dia. Dan trus selama ini kita bahas masalah masadepan serius itu buat apa? maksudnya apa? 

Sejak saat itu aku jadi males ketemu Cahyo, males bbm dia. Dan dia juga ga pernah bbm lagi, jadi pas banget. Aku sempet mikir, dulu aja pas dia lagi di Cikampek, pas dia kesepian ga ada temen, dia selalu bbm aku. Tapi sekarang pas dia udah pulang, pas ada banyak temen, dia cuek ke aku. Oke, gapapa. Udah biasa juga kan dari dulu selalu jadi orang yang terlupakan. Terlewatkan. 

Puncaknya, aku udah kesel banget dan akhirnya aku hapus semua foto sama dia. Mau buat apa? useless. Dia sempet bbm dan tanya aku lagi kenapa, kok diem. Helloow? Aku bilang aja, gapapa, aku ga diem, ya sewajarnya aja. Emang harus segimana? Dia diem. Intinya abis itu hubungan kita jadi renggang, gak pernah komunikasi lagi. Dulu tuh, pas paket data dia sering abis dan dia off bbm, aku bener-bener kuatir sama kondisi dia. Sama keluarganya, karna biasanya tiap hari dia pasti cerita tetang kondisi mereka. Pas dia ngilang itu aku Cuma bisa doain dari jauh semoga semuanya sehat ga ada apa-apa. more like i pray for my own family.

Pas kemaren terakhir aku pulang lagi, aku ga bilang ke dia. Trus pas aku main ke rumah nenek juga aku ga bilang ke dia. Bahkan pas nenek nawarin buat ngajakin aku ketemu Cahyo, buat manggilin Cahyo, aku ga mau. Aku masih gamau ketemu dia. Rasanya masih marah. Rasanya masih kayak dipermainkan. Masih ga abis pikir kenapa dia tega ngelakuin ini ke aku? Kalo orang lain yang kayak gini sih bodohnya aku aja yang gampang percaya sama orang baru. Tapi ini tuh Cahyo, yang udah aku kenal sejak kecil, yang udah sempet aku anggep kayak sodar sendiri, yang keluarganya udah kayak keluarga aku sendiri, yang udah tau gimana kondisi aku, kok ya masih tega? Jujur ini rasa sakitnya, rasa kecewanya, berkali-kali lipat dibanding kalo orang lain yang ngelakuin ini. But yes, sometimes the person who hurts you most is the one closest to you. No doubt. 

Tapi aku gamau terus-terusan ada di posisi yang serba gak jelas macem ini. Aku ga mau suatu saat nanti dia dengan enaknya dateng lagi seakan semuanya ga pernah kejadian. Akhirnya aku putusin buat ngomongin ini ke dia. Di pantai, sambil nunggu sunset. Aku ceritain semuanya ke dia, semua unek-unek yang ada di pikiran aku selama ini. Dia shock sih keliatannya. Pokoknya pembicaraannya panjang, tapi intinya sih –sepemahaman aku ya- kita tuh punya beda pemikiran tentang semua yang kita omongin waktu confess dulu. Buat aku, yang emang belum pernah ngomongin tentang hal yang seserius itu sama cowo, pasti langsung nganggep serius. Apalagi kalo udah sampe bawa-bawa rencana masa depan, orang tua. Sedangkan bagi dia, mungkin belum seserius itu. itu poin pertama.

Poin kedua, dia ngerasa selama ini aku kurang care. I shocked. Dia ngaku kalo dia orangnya manja banget, selalu pengen disayang, diperhatiin. Tapi dia bilang aku kurang care sama dia. Well, in my defense, aku tuh sebenernya care banget sama orang. Tapi aku juga ga mungkin asal langsung care gitu aja dong, apalagi kalo ada ada komitmen/status yang jelas. Aku mau care sampe sejauh apa juga bingung akn. Nanti kalo terlalu care, sementara dia biasa aja ke aku, gak bener juga. Jadi selama ini aku emang nahan-nahan untuk gak langsung terlalu keliatan care ke dia karna satu, aku masih belum yakin tentang perasaan dia ke aku, dua, karna belum ada komitmen yang jelas jadi ga ada batasan yang jelas harus care sepanjang apa. Gatau juga definisi care menurut dia tuh apa, mungkin beda juga. Aku sih selama ini udah ngerasa care sesuai dengan kapasitas aku yang masih sebatas temen deket. Kalo menurut dia masih kurang, ya sorry to say, kapasitas aku waktu itu Cuma sebesar itu. you can’t get all of it all at once.

Intinya mungkin emang karna pemikiran kita yang beda aja, jadinya kayak gini. Dan faktor yang dia masih belum tau harus gimana sama pilihan-pilihannya. Yang kadang masih ingin tapi tak ingin. Finally i realised that kita ketemu lagi mungkin bukan buat sebagai manusia yang bisa dipasangkan. At least untuk saat ini. Mungkin Cuma supaya kita bisa saling komunikasi lagi aja. Lesson learned, for me is that aku ga boleh terlalu gampang kebawa suasana. Gara-gara dulu aku sempet suka aja jadinya pas dia dateng lagi aku gampang banget kebawa suasana. Walopun aku juga udah sekuat tenaga jagain hati aku sendiri, buat gak langsung percaya seratus persen sama dia, tapi tetep aja ada dampaknya. Tetep aja rasanya sakit, kecewa. Yaudah lah, tahap belajar. Lesson learned buat dia: mungkin supaya jangan semudah itu ngomongin masalah masa depan kalo emang sendirinya belum yakin. Mungkin kalo dia bahas ini sama cewe lain yang udah terbiasa dengan hal kayak gini sih ya dampaknya ga bakal segede ini. Tapi kalo ngomong sama aku, which is menurut aku this is a huge thing, ga ada kata gak serius. 

Again, mungkin timing buat kita emang gak pernah tepat ya, Yo. Dari dulu. Atau mungkin emang kita Cuma ditakdirkan buat jadi sahabat aja, jadi sodara aja, ga pernah bisa lebih. Seperti yang dulu aku pernah bilang ke kamu, aku Cuma pengen liat kamu seneng, di manapun dan sama siapapun nantinya. Itu udah cukup, lebih dari cukup. Karna dari dulu aku juga udah terbiasa buat liat kamu bahagia dari kejauhan. Dulu ayahku bilang, waktu aku cerita tentang aku yang suka sama cowo udah lama. Dia bilang, udah, porsi kamu udah cukup. Udah cukup usaha kamu selama ini buat sayangin dia. Kalo dianya gak ngerti juga, biarin dia pergi. Nanti kalo emang dia buat kamu, dia pasti bakal kembali lagi. Dan nanti biar gantian giliran dia yang mengusahain semuanya untuk sayangin kamu, gantian. Kata-kata itu yang selalu aku pegang selama ini. Makanya pas kamu tau-tau muncul lagi, dan kita deket lagi, sampe akhirnya kamu confess masalah yang menurut aku serius itu, aku pikir ini mungkin udah saatnya buat kita dapet kesempatan kedua lagi. Itu yang bikin aku lama-lama jadi luluh dan mau buat coba percaya lagi ke kamu, buat besedia nunggu kamu, support kamu sampe kamu bisa jadi apapun yang kamu mau. Tapi kenyataannya? Semuanya langsung buyar sudah. Rasanya sampe udah gatau harus percaya sama apa dan siapa lagi.

Tapi yaudahlah, semuanya udah terjadi. ga perlu sedih lama-lama, karna semua pasti ada hikmahnya. Setiap orang pasti ada di hidup kita untuk suatu tujuan kan? Mungkin aku kenal kamu selama ini, udah ada di bagian dari pemikiran ku selama hampir separuh dari hidup aku (well, technically it is 2004-2015 which is 11 years, close enough lah to call it this way), dari stage aku masih bocah SD, sampe remaja labil nan galau pas SMP, sampe akhirnya aku punya keberanian untuk menyatakan (halaaaah, geli bahasanya) pas SMA, trus sempet ilang-muncul-ilang-muncul lagi sepanjang jaman kuliah, dan sampe sekarang kita udah sama-sama dewasa buat menyikapi apapun yang terjadi di antara kita. Aku ga marah lagi, Yo. Aku emang sempet sedih, kecewa berat, tapi insya Allah aku bisa ikhlas. Aku malah harusnya bersyukur, semua kejadian ini, dari SD sampe udah segede ini, aku udah dapet banyak banget pelajaran, untuk akhirnya membentuk aku jadi aku yang seperti sekarang. Mungkin kalo ga ada semua kejadian itu, aku gak kayak gini. So, thank you for everything. Karna selama aku sayangin kamu selama ini, aku belajr gimana caranya buat kuat. Belajar gimana bisa tetep stay happy pas lagi sedih haha. Belajar supaya ikhlas, bener-bener ikhlas. Belajar supaya gak gampang cemburuan, apalagi kalo bukan siapa-siapanya haha. Belajar buat doain dari jauh. Belajar buat care sama orang lain, sama keluarga kamu, contohnya. Belajar buat bisa berpikir jernih dan ambil jalan terbaik buat semua masalah yang ada di depan kita. Aku juga seneng banget bisa dapet additional happiness dari semua ini, happiness karena aku punya additional family, happiness pas aku selalu dapet wejangan dan didoain ini-itu sama nenek, additional happiness pas aku liat kamu girang banget di pantai dulu itu, happiness karna aku pernah dapet momen-momen sunrise & sunset tetbaik di hidup aku, so far, sama kamu, happiness karena aku mengalami semuanya ini, sama kamu.

Aku gatau sekarang yang aku rasain ke kamu tuh namanya apa. apa masih ada perasaan atau nggak juga gak jelas. Yang pasti, aku Cuma pengen bisa liat kamu happy. Dan aku juga pengen bisa happyyyyyy. Aku ga mau, sepuluh, dua puluh tahun lagi aku masih ngerasain sakit yang sama, tiap kali aku liat kamu. Aku pengen bisa bersikap biasa aja tiap aku liat sunrise sama sunset, walopun ga sama kamu. Aku pengen bisa tetep suka sama motoGP, Chelsea, om Duta, 1D, tanpa ada bayang-bayang tentang kamu lagi. Aku pengen bisa bener-bener berdamai dengan semua ini, yo. Dengan aku. Dengan kamu. Dengan semuanya. Mungkin kalo ada ornag bilang tentang soulmate, then you are mine, yo. I see a part of me in you. Maybe because we share too many same things, sam interests. Which makes me even harder to forget you, to forgive myself and my past. Yes for me you are my soulmate, or maybe you’re just a tiny part of my childhood life, my childhood crush. Then you stayed there as my teenage-idol. Then you came stronger to be more like my soulmate. Eventhough you’re still untouchable for me, until now. 

Kalo mau mengutip dari HIMYM: “Everyone has their own Robin – the person that you loved very much, but you cannot be with. And whoever you’ll met, whatever you’ll do, nothing will be like it would be with Robin.” Yes, maybe you’re my Robin. 

Tujuan aku nulis ini semua, semata-mata media aku supaya bisa mencurahkan semua uneg-uneg di pikiran aku, di hati aku selama ini. Kalaupun suatu saat nanti ada yang baca, atau mungkin kamu baca, biar ini bisa jadi cerita aja gimana sebenernya cerita aku sama kamu. Karna mungkin beberapa orang di luaran sana juga ada yang sedikit tau, atau mungkin ada yang pengen tau, ya beginilah dari sisi aku. Semuanya aku tulis secara objektif, kalo berkaitan dengan orang lain. mudah-mudahan tulisan ini gak terlalu terasa aku yang melebih-lebihkan bagianku, ya. Dan setelah ini, aku masih bakal melanjutkan hidup kok. I will carry on on my one and wild life, haha. Mudah-mudahan semua pelajaran yang udah aku dapet selama ini bisa jadi bekal buat aku menjalani hubungan atau kehidupan selanjutnya. Karna itulah tugas dan fungsi seorang soulmate, to break us until finally we can refeal who we really are. And i’m thankful for all of that. 

Oh iya, satu lagi. Kalo gak salah sih ya, aku masih ngerasa kalo kamu sampe sekarang, after all this time, masih belum bisa moven on dari Rizkha. Am i right? yah sampe kapanpun kamu emang ga akan pernah bisa lupa yo sama dia. Sampai kapanpun. Mungkin emang bukan saya, Puteri yang kamu cari. Dan mungkin bukan kamu, Imam yang aku rindukan selama ini. Mungkin. 

 

Karawaci, 221115

Saturday, May 23, 2015

I'll be waiting..

Ada lagunya Indra Lesmana & Eva Celia yang liriknya: 

You gotta come and find me, uh follow my lead 
You gotta come and show me, uh could this be real 
If you can come and find me, oh maybe this time I'll be waiting on the other side.. 

Kalau flashback ke belakang, sepertinya aku udah terlalu sering ya suka sama orang trus bilang jujur kalo aku suka. Beberapa orang bilang aku berani banget, bisa jujur gitu. Yah daripada gak jelas kan, digantungin, mending langsung bilang/tanya aja. Awalnya aku pikir itu bisa memperjelas keadaan, apapun risikonya. Dan hampir semuanya emang ended up dengan tidak happy ending, sih. Tapi kalaupun emang harus berakhir agak tragis kayak gitu, mending cepet sadar kan? 

Sekarang malah jadi mikir, apa akunya aja yang kurang sabaran, yg pengennya cepet jelas segala sesuatunya. Tapi apa itu salah? Capek gak sih jaman sekarang masih cuma main-main dan ga jelas arahnya mau ke mana. I am not teenager anymore. And I dont wanna be treated like a teenager. Langsung ilfil kalo digituin. (Eh kok asa teu nyambung ya haha) 

Intinya sekarang mungkin kalo misal suka sama orang dan serius, harus bener-bener bisa sabar. Sabar buat gak terlalu keliatan banget, apalagi sampe bilang duluan. Mending buat sekarang ini, buat yang satu ini, jangan deh. Biar kalo emang jodohnya, biarin Allah SWT aja yg menunjukkan dan membukakan. 

Dulu sih selalu berpikir kalo biarpun cewek, aku harus usaha juga, salah satunya dengan maju duluan. Tapi untuk kali ini jangan deh. I can't bear the risks anymore. Abis yang ini bener-bener subhanallah banget sih orangnya. Too  good to be ruined by my weird actions. 
Bener juga ya, saat kita dijauhkan dari sesuatu, kita pasti akan ditunjukkan ke sesuatu yang lain yang jauh lebih baik. Semakin ke sini kualitasnya semakin baik, alhamdulillah. So i dont wanna ruin that. Not anymore. 

Mungkin ikhtiarku sekarang lebih ke langsung minta ke Allah aja, Dzat Yang Maha Kaya, Yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Semoga saja yg ini beneran bisa sampe akhir hayat nanti. Aamiin. 

Sekarang sih aku bener-bener gatau ini akan jadi seperti apa. Masih zero banget. I'm still waiting for that thing, eventhough i don't know exactly whether it's gonna happen or not. I call it faith, and i will keep it. Minta aja langsung sama Yang Punya dia. Mudah-mudahan dimudahkan. 

He once came and successfully found me, so i'll just be waiting on the other side til he comes again and brings me home. 

Monday, April 6, 2015

The forgotten one

Akhir-akhir ini lagi ngerasa sedih. I feel so forgotten. Terlupakan. Terlewatkan. (Ish bahasanyaaa err) 
Intinya semacam 'terlupakan' sama orang-orang terdekat. Well, orang-orang yang dulunya dekat. 

So i have two best friends. Satu deket sejak SMP, satu lagi deket sejak SMA. Di SMA kita bareng dan almost sekelas terus. Pas kuliah juga, walaupun jauh-jauhan kita tetep keep contact, even kita bikin blog sendiri biar gampang kalo mau cerita panjang lebar tentang apapun. Itu bertahan lumayan lama, sampe ada belasan atau puluhan post. 

Sejak lulus dan udah mulai sibuk sama kerja dan coass (they both are doctor), kita jadi semakin jarang komunikasi. Buat ngeblog juga ga sempet lagi. Dan masing-masing dari kita juga akhirnya punya temen deket/sahabat lain dari lingkungan baru. I have mine, too. 

Jadi praktis kita ketemunya, ngumpulnya cuma kalo lagi libur panjang doang, kalo lagi sama-sama pulang ke Cilacap. Tapi tiap di rumah pasti kita usahain banget buat ketemu, walaupun cuma bentar. 

Dan di antara kami bertiga, aku yang paling jarang pulang. Karena jaraknya yg paling jauh kan, Jakarta-Cilacap. Udah gitu jarang banget bisa cuti panjang. Sedangkan mereka lebih sering bisa pulang, karna Semarang-Cilacap dan Jogja-Cilacap, masih bisa bolak-balik di hari yang sama kalau gak gempor. Jadilah aku paling jarang bisa ngumpul. 

Makin ke sini makin susah. Jadi makin renggang. Sampe puncaknya mereka sekarang lagi sering ngumpul sama temen lain. Dan ada satu orang, temen kami juga, yg keliatannya udah 'menggantikan' posisi aku. Yg dulunya kami ke mana-mana bertiga, sampai menyebut kami dengan "bertiga seru", sekarang mereka juga bertiga, tapi aku ga ada di situ. Di situ saya merasa sedih :( 

Apalagi kalau liat postingan mereka di path tentang jalan-jalan mereka bertiga. Liat DP BBM mereka yang bertiga. Rasanya sedih, pengen kayak gitu juga sama mereka. 

Sometimes i blame the distance between us. Sometimes i blame myself for not being there. Til finally i've been forgotten. But what could i say? :( 

Salah satu dari kami mau nikah Agustus nanti. I said i will come when she let me know about her wedding plan. Eh taunya kemaren dia bbm lagi, nanyain bisa dateng apa nggak pas wedding dia, soalnya dia mau kasih seragam. 
That makes me sad because she probably thinks that i won't come :( 
Kenapa pake harus tanya coba? Pasti lah aku bakalan dateng, aku usahain banget supaya bisa dateng. You're like.. One of my best friends, since years ago. And i know all your journey to find your last love. I don't have a heart to not going to your wedding. Apalagi itu weekend, kemungkinan besar bisa dateng lah. 
Mungkin kalo aku sakit berat aja baru ga bisa dateng. Or i'm dead. Perhaps eventho i'm dead, my spirit will attend your wedding. Singkatnya begitu lah. 

Hhhh. Mungkin dia nanya kayak gitu cuma memastikan aja kali, aku bisa dateng apa gak. Daripada udah dikasih seragam tapi akhirnya gak dateng, kan sayang seragamnya. But it also makes me sad. Truly sad. Aku masih mending dia bilang kalo maksa aku buat dateng, gimanapun caranya harus dateng, because she wants me to be there. I'll really really appreciate it. And surely will put it on my highest importance list (which i've already done it). 
Bukan karena sayang seragamnya :( 

Mungkin ini cuma perasaan aku aja. Maybe it's just me who overthink everything. Tapi, setelah kejadian-kejadian yang bikin aku ngerasa forgotten? Udah pasti makin bikin aku ngerasa forgotten kan? 

P.S. Beberapa waktu lalu dia ke jakarta, even ga ngabarin aku. Kalo aku tau dan bisa, kan kita bisa meet up dulu. Tau-tau dia udah check in di bandara dan mau balik. Biasanya aku langsung komen dengan nada yang agak manja-manja becanda gitu, kenapa ga bilang kalo ke jakarta. Tapi kali ini biarin lah. Kalo dia emang niat buat ngabarin, or at least remember that i'm still here, she probably  had notified me.